alexametrics

Sulit Terdeteksi, Turunan Omicron Varian BA.2 Menipu Hasil PCR

28 Januari 2022, 13:16:38 WIB

JawaPos.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan subvarian Omicron atau turunan varian Omicron dengan nama BA.2 sudah ditemukan di Indonesia dengan total 10 kasus. Subvarian yang kali pertama ditemukan di Amerika Serikat ini memiliki karakteristik menipu hasil pemeriksaan tes PCR.

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara dan Mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan data sampai 25 Januari 2022 menunjukkan bahwa dari 372.680 sampel sekuen yang dimasukkan ke GISAID dari berbagai negara di dunia berdasar spesimen yang dikumpulkan dalam 30 hari terakhir. Maka, 332.155 (89,1 persen) adalah varian Omicron yang memang paling banyak dari yang dimasukkan ke GISAID.

Lalu disusul oleh sejumlah varian. Yaitu varian Delta, 39.804 sampel sekuen (10,7 persen), varian Gama 28 (<0,1persen), varian Alfa 4 (<0,1 persen), varian lain yaitu Mu dan Lambda yang tergolong dalam VOI sebanyak 2 sekuen (<0,1 persen).

“Sekarang sedang banyak dibicarakan tentang BA.2, salah satu jenis varian Omicron,” jelasnya dalam keterangan resmi, Jumat (28/1).

Varian Omicron memang meliputi jenis B.1.1.529, BA.1, BA.2 dan BA.3. Data GISAID pada 25 Januari 2022 menunjukkan 98,8 persen di antara data yang ada yakni terdapat subvarian BA.1. Sementara jumlah negara yang melaporkan BA.2 juga terus makin meningkat.

Subvarian menipu

Menurut Prof Tjandra Yoga, BA.2 dikenal sebagai ‘stealth Omicron’ atau Omicron yang ‘menipu’. Khususnya karena adanya delesi fenomena pada pemeriksaam metode ‘S gene target failure–SGTF’. Sehingga subvarian ini dapat tidak terdeteksi oleh pemeriksaan PCR SGTF yang kini justru mulai diperbanyak di Indonesia.

“Sekarang memang jumlah BA.2 masih amat kecil, tapi kalau jumlahnya makin banyak maka bukan tidak mungkin dapat mempengaruhi kebijakan yang perlu diambil,” katanya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads