alexametrics

Plasenta Perempuan Hamil Positif Covid-19 Tunjukkan Adanya Kerusakan

24 Mei 2020, 00:21:15 WIB

JawaPos.com – Plasenta dari 16 perempuan yang teruji positif korona (Covid-19) saat hamil menunjukkan bukti adanya luka berdasarkan uji patologis yang dilakukan langsung setelah persalinan. Hal itu menurut sebuah penelitian yang dirilis Northwestern Medicine.

Ke-16 perempuan yang terlibat dalam penelitian tersebut melahirkan bayi mereka di Northwestern Medicine Prentice Women’s Hospital, Chicago, Amerika Serikat. Empat pasien masuk dengan menunjukkan gejala mirip flu tiga hingga lima pekan sebelum melahirkan dan teruji positif Covid-19.

Sementara itu, sisa pasien lainnya teruji positif saat mereka masuk ke rumah sakit tersebut untuk melahirkan. Lima pasien tidak mengalami perkembangan gejala, sementara lainnya mengalami gejala saat persalinan.

“Bayi-bayi yang dilahirkan sehat, lahir tepat waktu, dan normal, tetapi temuan kami mengindikasikan banyak aliran darah terhambat dan banyak plasenta berukuran lebih kecil daripada seharusnya,” kata Emily Miller, salah satu peneliti yang juga asisten ahli obstetri dan ginekologi di Fakultas Kedokteran Feinberg NU sekaligus dokter kandungan di Northwestern Medicine, seperti dilansir Antara dari Xinhua. “Plasenta terbentuk dengan kelimpahan yang sangat banyak. Bahkan jika setengahnya saja yang berfungsi, seringkali bayi akan sepenuhnya baik-baik saja. Namun, meski kebanyakan bayi akan baik-baik saja, terdapat risiko bahwa beberapa kehamilan dapat mengalami masalah yang membahayakan,” tambahnya.

Plasenta pada pasien tersebut memperlihatkan dua abnormalitas yang sama, yakni aliran darah yang tidak memadai dari ibu kepada janin dengan pembuluh darah abnormal yang disebut maternal vascular malperfusion (MVM) dan sumbatan aliran darah di dalam plasenta yang disebut intervillous thrombi.

Plasenta merupakan organ pertama yang terbentuk selama perkembangan janin. Organ ini berperan sebagai paru-paru, perut, ginjal, dan hati bagi janin, mengambil oksigen dan nutrien dari aliran darah sang ibu serta menukar residu. Plasenta juga menyebabkan banyak perubahan hormon pada tubuh sang ibu. “Plasenta berfungsi seperti ventilator bagi janin, dan jika plasenta rusak, dapat mengakibatkan efek yang buruk,” kata Miller. “Dalam penelitian yang sangat terbatas ini, temuan-temuan tersebut memberikan beberapa pertanda bahwa plasenta mungkin tidak berfungsi dengan baik selama waktu yang diinginkan jika sang ibu teruji positif SARS-CoV2,” tambah dia.

“Muncul konsensus yang menyatakan bahwa terdapat masalah penggumpalan darah dan kerusakan pembuluh darah pada pasien Covid-19,” ujar peneliti senior Jeffrey Goldstein, asisten ahli di Fakultas Kedokteran Feinberg NU sekaligus seorang patolog di Northwestern Medicine. “Temuan kami ini sesuai dengan teori bahwa coronavirus berhubungan dengan penggumpalan darah, dan itu terjadi pada plasenta,” terang dia

Penelitian tersebut diterbitkan pada Jumat (22/5) di American Journal of Clinical Pathology.
Northwestern Medicine merupakan kolaborasi antara Northwestern Memorial Healthcare dan Fakultas Kedokteran Feinberg NU, yang mencakup riset, pengajaran dan perawatan pasien. (*)

Editor : Dinarsa Kurniawan

Reporter : Antara



Close Ads