KLB Campak Muncul Akibat Anak Terlambat Diimunisasi, ini Kata Dokter

24 Januari 2023, 16:55:52 WIB

JawaPos.com – Sejumlah provinsi di Indonesia berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah campak. Salah satu penyebabnya adalah cakupan imunisasi yang rendah selama pandemi Covid-19. Imunisasi adalah upaya untuk melindungi bayi dan anak dari berbagai penyakit menular.

“Dari semua jenis imunisasi, sebenarnya tidak ada yang dianggap lebih penting dari lainnya. Jadi, sebisa mungkin semua anak mendapatkan semua jenis vaksin, baik yang menjadi program pemerintah maupun yang belum masuk program pemerintah,” kata Dokter spesialis anak, dr. Caessar Pronocitro SpA, Msc dalam Instagram Live Teman Parenting, baru-baru ini dalam keterangan Teman Bumil.

Menurutnya, jika ingin anak kita sehat dan terhindar dari semua penyakit, maka paling baik bila orang tua bisa melengkapi semua jenis imunisasi untuk anak. Hanya, kata dia, memang ada jenis vaksin yang sudah disubsidi pemerintah sehingga lebih populer dan dianggap wajib.

“Padahal vaksin di luar itu yang tidak disubsidi pemerintah bukan berarti tidak penting,” jelasnya.

Imunisasi untuk Semua Anak

Ia melanjutkan, imunisasi seharusnya diberikan pada semua bayi sejak dilahirkan, tanpa memandang apakah terlahir normal, atau prematur. Imunisasi diberikan sesuai usia kronologis. Jadi, jadwalnya sama. Kecuali untuk vaksin hepatitis B menunggu berat badan 2 kg jika bayi terlahir prematur.

Sebagian orang tua sengaja tidak memberikan imunisasi pada anak karena berbagai alasan. Alasannya, dengan ASI dan makanan bergizi, ditambah suplemen herbal seperti madu saja, sudah cukup memberikan anak kekebalan tubuh.

Menurut dr. Caessar, hal itu tidak tepat. Ada dua jenis kekebalan tubuh, yaitu kekebalan tubuh yang bersifat umum dan kekebalan tubuh khusus atau spesifik.

Daya tahan tubuh yang yang bersifat umum ibarat tentara atau satpam yang akan menangkap siapa saja orang yang mencurigakan atau berpotensi jahat. “Sedangkan kekebalan spesifik hanya menyerang virus atau bakteri tertentu, seperti Densus 88 yang hanya menangkap teroris. Dan kekebalan spesifik ini hanya didapatkan melalui imunisasi. Misalnya antibodi campak hanya akan dibentuk dengan imunisasi campak, antibodi hepatitis B hanya terbentuk setelah imunisasi hepatitis B. Jadi tidak bisa kekebalan spesifik ini hanya diperkuat dengan ASI atau makanan,” katanya.

Dampak Terlambat atau Menunda Jadwal Imunisasi

Ikatan Dokter Anak Indonesia sudah memiliki jadwal imunisasi yang akan menjadi patokan bagi seluruh orang tua. Jadwal imunisasi dibuat berdasarkan penelitian, terutama kapan anak sudah mampu membentuk jenis antibodi tertentu.

Misalnya vaksin campak yang kini bernama MR (Campak dan rubela), diberikan pada usia 9 bulan. Mengapa 9 bulan? Karena di usia ini sel kekebalan sudah bisa merespons kuman penyebab campak dan rubela dengan efektif. Dengan begitu pemberian imunisasi akan memberikan manfaat yang optimal.

Selain itu penelitian juga berdasarkan angka penyakitnya. Beberapa penyakit seperti pneumonia dan diare misalnya, rentan menjangkiti anak usia di bawah 1 tahun, segera imunisasi PCV dan rotavirus diberikan mulai usia 2 bulan.

“Bagaimana jika jadwal vaksin anak terlambat atau tidak beraturan? Keterlambatan pemberian vaksin memang tidak lantas vaksin yang diberikan kemudian akan menjadi sia-sia. Imunisasi yang diberikan di usia berapapun tetap akan membentuk daya tahan tubuh. Namun harus diingat, ada risiko bayi terserang penyakit di masa ia belum mendapatkan vaksin. Inilah pentingnya mendapatkan imunisasi sesuai jadwal,” ujar dr. Caessar.

Ada banyak alasan orang tua melewatkan jadwal vaksinasi. Pertama, karena anak tengah sakit. Menurut dr. Caessar, sakit ringan tidak menjadi kontraindikasi imunisasi, kecuali sakit berat. “Yang bisa menilai apakah sakitnya ringan adalah dokter, jadi bawa ke dokter sebelum vaksin jika si Kecil demam atau batuk pilek ringan,” jelasnya.

Alasan lain adalah takut efek samping vaksin, mitos dan hoax soal vaksin yang masih ada sampai sekarang. Akibat menunda vaksinasi, dengan berbagai alasan, menyebabkan cakupan imunisasi rendah.

Hal ini menjadi penyebab munculnya beberapa kasus Kejadian Luar Biasa penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, termasuk KLB campak d awal tahun ini. Salah satu penyebabnya adalah pandemi Covid-19 di mana orang tua tidak membawa anaknya ke fasilitas kesehatan untuk divaksin.

Sebelumnya negara kita juga mengalami KLB difteri akibat cakupan imunisasi rendah. Padahal penyakit ini sudah jarang ditemui.

“Bagi yang terlambat imunisasi atau terlewati jadwalnya, imunisasi tetap bisa disusulkan tanpa perlu mengulang vaksin yang sudah diberikan. Jadi, orang tua tidak perlu ragu untuk membawa anak ke tenaga kesehatan untuk mengejar jadwal imunisasi,” kata dr. Caessar.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads