alexametrics

Disiplin, Kunci Sembuh dari Tuberkulosis

24 Januari 2022, 05:48:22 WIB

Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyakit menular dengan tingkat kematian tertinggi di Indonesia. Karena itu, masyarakat patut mewaspadai penyakit yang menyerang paru-paru tersebut. Sebab, penyakit itu bisa dicegah dan diobati secara disiplin.

SISTEM Informasi Tuberkulosis Indonesia (SITB) pada Oktober 2021 mencatat lebih dari 209 ribu kasus TB yang terdeteksi di Indonesia. Sedangkan, Global TB Report 2021 melaporkan lebih dari 393 ribu kasus TB di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh dr Siti Nadia Tarmizi MEpid pada wawancara tertulis Senin (10/1). Dia menjelaskan, TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit itu kerap menyerang paru-paru, tetapi dapat juga mengenai bagian tubuh lainnya. Misalnya, tulang, kelenjar, kulit, dan otak.

Bakteri TB ditularkan melalui udara dengan percikan dahak atau droplet. Yang dikeluarkan oleh pasien TB ketika mereka berbicara, tertawa keras, batuk, dan bersin. TB bukan penyakit keturunan. Semua orang berisiko tertular TB, tapi ada kelompok yang paling berisiko tertular. Yakni, anak-anak, lansia, dan pasien dengan penyakit komorbid. Seperti diabetes melitus dan HIV.

Mirisnya, terdapat penurunan deteksi kasus TB selama pandemi Covid-19. Dari data SITB, hanya 53 yang terdata selama 2021. Penyebabnya, penyintas TB belum mengakses layanan kesehatan maupun kegawatdaruratan karena mereka cenderung lebih khawatir memeriksakan diri seiring merebaknya kasus Covid.

Untuk mengatasi kasus yang tidak ditemukan, pemerintah melakukan tiga langkah. Yakni, edukasi dan skrining TB di populasi umum, investigasi kontak pada keluarga dan kontak erat pasien TB, serta penggunaan aplikasi skrining berbasis online.

Meski sama-sama menular lewat droplet dan menyerang paru, TB dan Covid-19 memiliki perbedaan. Yakni, terkait dengan masa inkubasinya. Covid-19 menunjukkan masa inkubasi yang relatif singkat, berkisar 0–14 hari. Sedangkan, TB bisa menjadi laten atau tidur di dalam tubuh seseorang. Kemudian, bangkit dalam rentang waktu yang lama.

”Terutama saat daya tahan tubuh seseorang sedang lemah,” papar direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan itu.

Kemudian, ada sejumlah gejala khas TB. Yaitu, meliputi serangan kronik lebih dari 14 hari, demam kurang dari 38 derajat Celsius, batuk berdahak disertai bercak darah, dan sesak napas memberat bertahap. Diikuti dengan penurunan berat badan dan berkeringat di malam hari. Jika sudah ada tanda-tanda itu, dr Nadia menyarankan agar segera berkonsultasi ke dokter. Untuk memastikan penyakitnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : nas/c13/tia

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads