alexametrics

Direkomendasikan WHO, Sunat dengan Metode Klem Tekan Risiko Pendarahan

23 November 2021, 16:25:15 WIB

JawaPos.com – Khitan atau sunat adalah adalah tindakan medis untuk membuang sebagian atau seluruh kulup (prepusium) dengan tujuan tertentu. Selain menjadi syariat agama, sunat juga merupakan untuk tujuan kesehatan. Lebih dini anak disunat, disebut lebih baik. Sayangnya, anak-anak sudah takut duluan, jika melihat jarum suntik atau pisau sunat.

Dalam webinar bersama Ikatan Dokter Indonesia dan Rumah Sunat dr. Mahdian, Senin (22/11), untuk meminimalisasi berbagai risiko yang mungkin terjadi pada tindakan sunat, saat ini ada metode klem yang telah direkomendasikan oleh WHO. Founder Rumah Sunat dr. Mahdian, dr.Mahdian Nur. Nasution SpBS, mengungkapkan bahwa sunat dengan metode klem bisa meminimalisasi risiko pendarahan. Teknik biusnya juga tidak menggunakan jarum suntik sehingga dapat mengurangi rasa takut pada anak dan membuat anak merasa lebih nyaman.

“Umumnya sirkumsisi atau sunat dilakukan melalui anastesi lokal. Saat proses anastesi dilakukan pada posisi yang tepat dan dosis yang adekuat, nyeri dapat terkontrol dengan baik,” katanya secara daring, Senin (22/11).

Selain klem, kata dia, suntikan tanpa jarum (Needle Free Injection) memungkinkan kenyamanan lebih saat proses anastesi dilakukan. Teknik suntikan tanpa jarum ini menggunakan alat yang bernama comfort in. Teknologi ini bekerja dengan cara mengantarkan cairan obat menggunakan mekanisme tenaga pegas berkecepatan tinggi yang dapat menembus kulit dalam waktu kurang dari sepertiga detik

“Metode sunat ini tidak memerlukan jahitan dan perban. Selain itu, proses sunat relatif lebih cepat yaitu kurang dari 7 menit,” katanya.

Setelah tindakan sunat, anak bisa langsung beraktivitas. Namun, hal lainnya yang juga perlu diperhatikan adalah kontrol pasca sunat. Kontrol pasca sunat diperlukan agar proses pemulihan luka sunat bisa dipantau dengan baik oleh dokter. Hal ini juga bertujuan untuk mencegah berbagai risiko yang mungkin terjadi, seperti pendarahan, penis bengkak, hingga infeksi pada penis.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani




Close Ads