Pastikan Penelitian Vaksin dengan Hindari Bahan Haram

Perlu 15 Tahun Bikin Vaksin Baru

23/08/2018, 22:07 WIB | Editor: Ilham Safutra
Ilustrasi: Indonesia Butuh 15 Tahun Lagi untuk Dapatkan Vaksin Baru. (Haritsah Almudasir/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Indonesia pun menjadi center of excellence (CoE) untuk vaksin dan produk bioteknologi bagi negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).  CoE itu akan meriset mengenai pengembangan vaksin.

Menurut data Kementerian Kesehatan, cakupan imunisasi measles-rubella (MR) di luar Pulau Jawa hingga Senin (20/8) mencapai 34,14 persen. Pemberian vaksin MR di luar Pulau Jawa terkendala polemik halal-haram. Fatwa MUI No 33 Tahun 2018 memaparkan bahwa vaksin MR diperbolehkan. Salah satu sebabnya, belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci.

Usaha untuk membuat vaksin yang aman terus dilakukan. Bukan hanya pemerintah, melainkan juga para peneliti Indonesia. Misalnya, yang dilakukan Prof Nidom Foundation (PNF). Lembaga penelitian tersebut tengah meneliti proses hulu pembuatan vaksin.

Ilustrasi: Indonesia Butuh 15 Tahun Lagi untuk Dapatkan Vaksin Baru. (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

"Dekade terakhir yang menjadi isu pokok dalam penelitian adalah bahan pembawa yang bisa merugikan jangka panjang. Misalnya, timbul kelainan. Isu lainnya adalah kehalalan," kata Prof Chairul Anwar Nidom, pendiri PNF, kemarin (22/8).

Pihaknya tengah merintis penggunaan sel ikan untuk proses awal pembuatan vaksin. Sel ikan itu digunakan untuk mengganti sel dari anjing, janin, atau monyet yang dinajiskan.

Vaksin yang dikembangkan bermacam-macam. Salah satunya adalah untuk influenza. Penelitian yang dilakukan PNF, menurut Nidom, juga menggandeng beberapa pihak. Di antaranya, dari Universitas Lausanne, Swiss.

Head of Corporate Communications PT Bio Farma N. Nurlaela Arief juga menjelaskan bahwa pihaknya tengah meneliti masalah vaksin. "Kami berupaya agar produk vaksin MR tersebut tidak menggunakan bahan yang berasal dari unsur haram atau najis dalam prosesnya," tuturnya.

Dia mengatakan bahwa riset untuk membuat vaksin anyar memerlukan waktu panjang. Setidaknya 15 hingga 20 tahun untuk menemukan vaksin dengan komponen yang baru.

Selain itu, Direktur Utama PT Bio Farma telah menjadi wakil ketua kelompok produsen vaksin (VMG) OKI. Pada Desember tahun lalu, pertemuan Islamic Conference of Health Ministers (ICHM) Ke-6 di Jeddah telah menunjuk Indonesia sebagai center of excellence (CoE) produksi vaksin dan produk bioteknologi. 

(lyn/c10/tom)

Berita Terkait

Rekomendasi