alexametrics

Balita Dua Tahun Sudah Diperbolehkan, Cegah Demam Tifoid dengan Vaksin

Diulang Tiga Tahun Sekali
21 November 2021, 23:01:40 WIB

Selama masa pandemi, banyak habit yang berubah. Salah satunya ketika lapar. Jempol bak jari Maleficient. Tinggal klik, cling makanan atau minuman datang. Namun, tanpa disadari, bahaya kesehatan ikut mengiringi. Apa itu? Demam tifoid.

SALAH satu lembaga riset ternama, CLSA Indonesia, memaparkan hasil riset pada Maret lalu bahwa 70 persen dari 450 responden sering memesan makanan secara online daripada sebelumnya. Terasa enak memang pesan makanan atau minuman secara online.

Sambil duduk dan rebahan nonton film series, memandangi foto-foto makanan yang ciamik. Glek, bikin nelan ludah. Begitu tahu yang menarik dan sukses menggoyangkan perut, langsung klik bayar. Beberapa menit kemudian, makanan yang dipesan datang. effortless-kan?

Tak perlu repot mengecek bagaimana bahan makanan yang diolah. Tidak pusing memikirkan air apa yang digunakan untuk mencuci bahan makanan serta minuman. Atau, apakah tangan pengantar sudah bersih. Makanan datang, langsung eksekusi. Habis deh!

Ditemui dalam acara Sanofi Kampanyekan #SantapAman (11/10), Head of Medical Sanofi Pasteur Indonesia dr Dhani Arifandi T mengatakan bahwa selama pandemi, sekitar 97 persen pengeluaran per bulan masyarakat digital untuk pesan makanan. Pola baru di masa pandemi yang muncul itu ternyata memunculkan risiko anyar.

Nah, Anda perlu berhati-hati. Mengapa? Sebab, ketika proses pembuatan makanan atau minuman yang tidak bersih bisa berujung petaka. Ada “oleh-oleh” yang dibawa dan diterima konsumen. Yaitu, penyakit tipus (demam tifoid) dan hepatitis A.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi itu termasuk infeksi sistemik. Perlu diketahui, kasus terbanyak demam tifoid terdapat di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia, demam tifoid termasuk penyakit endemik. Karena prevalensi demam tifoid cukup tinggi. Yakni, mencapai 500 kasus per 100 ribu penduduk per tahun.

Sebuah penelitian di daerah kumuh Jakarta, diperkirakan insidensi demam tifoid usia 2-4 tahun sebesar 148,7 per 100 ribu penduduk per tahun. Kemudian, rentang usia 5-15 tahun sejumlah 180,3 dan sekitar 51,2 insiden demam tifoid terjadi pada usia di atas 16 tahun.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) memperkirakan 11–20 juta orang sakit karena demam tifoid dan mengakibatkan kematian sebanyak 128.000-161.000 orang setiap tahunnya di seluruh dunia. Bukan angka yang sedikit.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Dimas Nur Aprianto




Close Ads