alexametrics

Hindari Memperburuk Situasi & Kondisi, Boleh Tawarkan Bantuan ke Anak

20 September 2021, 05:48:23 WIB

Twinky menyatakan, anak jadi korban cyberbullying berarti sudah ”ramah” dengan internet. Kenal terhadap gawai. Yang jelas, orang tua jangan malah membuat kondisi semakin keruh. Tetap tenang dulu.

Dorong dan Yakinkan Anak Kuat

Suara Iriandi (bukan nama sebenarnya) terdengar parau ketika bercerita bahwa anak pertamanya menjadi korban cyberbullying setahun lalu. Saat itu, usia anak sulungnya 16 tahun.

Ibu dua anak itu mengetahui bahwa Kakak (panggilan untuk anak pertamanya tersebut) menjadi korban cyberbullying dari salah seorang temannya. Kebetulan, teman Indi (panggilan akrab Iriandi) masuk dalam daftar teman media sosial anaknya. Indi menuturkan, dirinya sudah menawarkan bantuan untuk ikut menjawab di kolom komentar. Namun, tawaran itu ditolak Kakak. Anaknya meminta Indi tidak perlu ikut-ikutan. Kakak meyakinkan kepada Indi bahwa dirinya bisa menyelesaikan masalah bullying.

Lain halnya dengan Yeni Setyiowati. Anaknya, David Nathanael Asa, menjadi korban bullying langsung. Tidak melalui media sosial. Ada beberapa kejadian bullying. Namun, yang melekat banget di pikiran si anak adalah saat didorong dari tangga lantai 1 sama teman sekolahnya. ”Kejadian itu waktu kelas V SD. Tempat kejadian di sekolah. Dadanya diinjak. Temannya itu berbadan lebih besar,” ujarnya.

Kejadian tersebut membuat anak menjadi minder sampai sekarang. Treatment yang diberikan orang tua adalah dengan memberikan dorongan kepada anak. Hal itu bertujuan agar anak lebih berani untuk menghadapi teman-temannya.

Yeni mengungkapkan, dirinya selalu meyakinkan bahwa anak harus bisa membela diri sendiri. Sebab, nanti ketika tidak ada orang tua, mereka harus berjuang sendiri.

CYBERBULLYING BERBAHAYA

– Kini melalui dua jempol saja bisa membunuh karakter seseorang. Ada beberapa bahaya ketika anak menjadi korban cyberbullying, parents. Apa saja itu?

– Berkurangnya rasa percaya diri. Pendapat orang lain tentang penampilan diri, terutama anak yang masuk fase remaja, sangat berpengaruh. Efek yang paling fatal adalah benci dengan diri sendiri karena dinilai jelek atau kurang menarik oleh orang lain.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sam/c13/tia




Close Ads