alexametrics

Hepatitis Misterius Jadi Pandemi Baru? Ini Jawaban Kemenkes

20 Mei 2022, 15:04:19 WIB

JawaPos.com – Indonesia sebelumnya melaporkan total kasus hepatitis misterius sejauh ini sebanyak 18 orang. Mereka adalah pasien yang memiliki gejala seperti mual, muntah, dan diare. Dari hasil pemeriksaan, hanya 14 kasus yang terkait hepatitis misterius. Angka ini dinilai masih cukup kecil untuk menyatakan hepatitis misterius sebagai pandemi baru.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan saat ini Indonesia mencatat itu 1 kasus probable (ada gejala ke arah hepatitis misterius) yang hasilnya sudah final bahwa dia bukan dari hepatitis A sampai E ataupun penyebab bakteri ataupun penyebab lainnya seperti misalnya tipus, demam berdarah ataupun penyakit yang menimbulkan kearah kuning. Dan 1 kasus yang sudah probable ini ditambah dengan 13 kasus yang masih pending klarifikasi.

“Sejauh ini penyakit ini belum ada definisinya, karena belum ketemu jenis penyebabnya, masih banyak sekali asumsi-asumsi, ada yang mengatakan ini adalah disebabkan oleh mutasi virus hepatitis, tapi belum tahu dia hepatitis jenis yang mana. Lalu adenovirus juga dikaitkan. Atau bisa merupakan infeksi yang bersamaan dengan Covid-19, tapi ini tidak ada sampai saat ini bukti yang menuju ke sana,” jelas Nadia kepada wartawan, Kamis (19/5).

Sejauh ini secara global, ada 436 kasus dari 27 negara. Indonesia melaporkan 1 kasus kematian dan 4 kasus dengan klasifikasi masih pending klasifikasi. Total 5 kematian yang diduga oeh hepatitis akut berat yang belum diketahui penyebabnya.

“Sementara kalau kita lihat Amerika Serikat juga sudah melaporkan 5 kasus kematian dan Palestina melaporkan 1 kasus kematian,” tambahnya.

Akankah Menjadi Pandemi?

Jika dilihat dati perkembangan kasus, kata dia, kecepatan penambahan kasus, fatalitas kasus, maka hepatitis akut misterius ini masih tergolong rendah. Maka Nadia menilai rasanya penyakit ini tak berkembang menjadi pandemi baru.

“Apakah jadi pandemi? Sampai seperti situasi pandemi rasanya kemungkinannya kecil sekali karena kondisinya tidak akan mengancam begitu banyak dan menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu,” jelasnya.

Tetapi menurutnya masyarakat perlu mewaspadai. Pasalnya WHO menyatakan ini sebagai penyakit yang disebut sebagai potensi terjadinya kejadian luar biasa (KLB).

“Nah kalau dalam epidemiologi, itu tahapan-tahapan penyakit itu kan mulai dari tahapan peningkatan kasus, kejadian luar biasa, wabah, endemi dan pandemi, kalau Covid-19 kan sampai di pandemi. WHO hanya mengatakan hati-hati nanti bisa terjadi KLB. Kenapa? karena kita enggak tahu nih penyakitnya itu sebabnya apa, virusnya belum tahu dan mengobatinya pakai obat apa juga belum tahu,” jelasnya.

Pencegahan

Nadia mengimbau masyarakat menjaga hidup bersih dan sehat. Masyarakat diimbau cuci tangan, tidak makan-makan sembarangan, jangan berbagi alat makan dengan orang lain. Menurutnya ini masalah personal higienis sanitasi dan memastikan cuci tangan adalah yang utama.

“UKS di sekolah diperkuat, kerjasama dengan Puskesmas setempat terutama untuk menjalankan surveilans tadi. Kalau ada kasus segera di tracing, dilakukan kontak investigasi dan enggak perlu kemudian dilakukan penutupan sekolah,” tegasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini: