alexametrics

Tak Hanya Tombol Lift, Udara di Dalamnya Juga Bisa Tularkan Covid-19

20 Mei 2020, 14:00:30 WIB

JawaPos.com – Saat naik lift atau elevator ada banyak tombol yang akan kita jumpai. Jika ingat prinsip penularan Covid-19, adalah lewat sentuhan pada benda-benda yang terpapar droplet atau percikan ludah pasien yang terinfeksi.

Maka tombol lift dan seluruh dindingnya berpotensi menjadi media penularan. Tapi, tak hanya menempel pada benda-benda tersebut. Udara di dalam lift juga bisa berpotensi menjadi media penularan virus korona.

Menurut New York Times, orang yang tinggal atau bekerja di gedung tinggi berisiko menggunakan lift setiap hari. Linsey Marr, seorang ilmuwan aerosol di Virginia Tech mengatakan bahwa lift bisa menjadi media penyebaran virus.

Sebagian besar elevator tidak cukup besar untuk memungkinkan orang mempraktikkan jarak fisik sejauh 1-2 meter. Sehingga kemungkinan penumpang di dalam lift yang terinfeksi dapat menularkannya, khususnya jika mereka membuka masker dan batuk atau berbicara.

Seseorang yang berada sendirian di dalam lift pun bisa terinfeksi. Sebab, pegangan tangan dan tombol lift dapat terkontaminasi oleh virus. Jika seseorang menyentuhnya, mereka bisa terinfeksi.

Udara di dalam lift juga dapat menyebarkan virus. Orang yang terinfeksi bisa menularkan dan dapat menginfeksi orang berikutnya yang naik lift, seperti dilansir dari Science Times, Rabu (20/5).

Contoh Ilustrasi Penularan dalam Lift

Dekan Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Portland, dan seorang spesialis dalam kualitas udara dalam ruangan, Richard L. Corsi, menciptakan model dengan menggunakan prinsip-prinsip teknik dan mekanika fluida untuk mempelajari lebih lanjut tentang keselamatan elevator. Tetapi karena ada banyak lift dan bangunan yang berbeda, ada ribuan skenario yang memberikan hasil yang berbeda.

Dia harus mempertimbangkan ukuran lift, kecepatan di mana ia berjalan, jumlah waktu yang terbuka, dan jika lift memiliki sistem ventilasi untuk membuat model. Dari sana, ia memutuskan untuk membuat model naik lift hipotetis di mana penumpang A yang terinfeksi menumpang lift sendirian dari lantai pertama selama 31 detik ke lantai 10 bangunan perumahan.

Penumpang tidak mengenakan masker, dan dia batuk saat berbicara ke telepon. Beberapa tetesan yang dihembuskannya jatuh ke lantai lift. Sementara beberapa menghantam sisi lift dan beberapa mengapung di udara.

Setelah mencapai lantai 10, pintu lift terbuka selama 10 detik saat dia keluar, dan menyeret beberapa kumannya saat dia pergi. Tekanan udara yang berbeda dari dalam dan luar lift melarutkan udara sekitar setengahnya.

Dan saat itu, pintu menutup dan kembali ke aliran pertama di mana Penumpang B sedang menunggu. Pintu terbuka, udara lobi bersirkulasi ke dalam lift, dan menipiskan udara lagi setengahnya, dan kemudian Penumpang B masuk.

Ini berarti Penumpang B sudah terpapar sekitar 25 persen dari partikel virus Penumpang A yang dihembuskan saat naik lift. Tetapi Dr. Corsi memperingatkan bahwa jumlahnya dapat berubah dalam lift yang berbeda, berdasarkan pada berapa lama pintu tetap terbuka, sistem ventilasi, dan tekanan udara yang ada di dalam gedung.

Dalam satu batuk, seseorang dapat melepaskan sekitar 300 ribu partikel. Karena Penumpang A batuk di dalam lift, maka penumpang selanjutnya yaitu Penumpang B juga bisa tertular.

Dr. Cosi mengatakan bahwa masih belum jelas apakah dosis partikel di udara lift dapat menimbulkan risiko yang signifikan. Namun, banyak ahli percaya bahwa partikel yang ada di udara dalam lift yang kosong dapat menimbulkan risiko tinggi.

Menurut Dr. Ilan Schwartz dari University of Alberta, bahkan di dalam rumah, Covid-19 positif dapat menginfeksi anggota rumah tangga lainnya sebesar 10 hingga 20 persen. Angka itu jauh menular daripada penyakit di udara seperti campak, yang memiliki tingkat infeksi 75 persen hingga 90 persen.

Solusinya

Jika tak bisa menjaga jarak aman, hal terbaik yang bisa dilakukan saat naik lift adalah menghindari naik lift bersama orang lain yang penuh sesak. Lalu tetap mengenakan masker. Tetap menghindari menyentuh wajah. Dan mencuci tangan setelah naik lift.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads