alexametrics

Cermat Atur Pola Makan dan Pikir untuk Pasien Kanker

Harus Ada Teman Curhat dan Me Time
18 Oktober 2020, 15:48:16 WIB

Pengobatan kanker tak berhenti di kemoterapi, terapi radiasi, atau operasi. Pemulihan perlu didukung dari luar dan dalam diri. Pola makan dan mindset wajib diperbaiki.

Diagnosis kanker masih menjadi momok bagi banyak orang. Setelah pengobatan, tak sedikit pasien yang malah kehilangan semangat. Menurut dr Agustina Konginan SpKJ, kondisi tersebut lumrah terjadi.

”Perjalanan kanker kompleks. Begitu pun tahap pengobatannya. Wajar kalau pasien sulit menerima,” katanya.

Spesialis kejiwaan di RSUD dr Soetomo, Surabaya, itu menjelaskan bahwa pengobatan kanker punya konsekuensi bagi pasien yang menjalaninya. Agustina menyebut keluhan mual, nyeri, hingga kerontokan dialami selama kemoterapi. Padahal, terapi tersebut harus dilakukan secara kontinu agar hasil optimal. Perjalanan itu berisiko membuat kondisi mental pasien down. ”Selama pengobatan, sering muncul rasa tak berdaya. Nggak bisa sekolah atau kerja, bergantung kepada keluarga atau teman,” ujar Agustina.

Beberapa pasien dan orang terdekat bahkan mulai memiliki rasa ketakutan berlebihan terhadap kematian. Situasi itu berujung pada lelah emosi. Ketika kondisi psikologis buruk, imunitas ikut turun. Dokter kelahiran Makassar tersebut menuturkan bahwa pasien perlu mendapatkan pendampingan dari psikolog maupun psikiater. Sejak awal pengobatan, pasien sebaiknya mengikuti sesi konseling. Keluarga, teman, dan pendamping pasien juga perlu memperoleh perhatian. ”Jangan enelantarkan diri sendiri. Harus ada teman untuk curhat dan me time,” tegas Agustina.

Dokter sekaligus dosen Universitas Airlangga (Unair) itu menilai, keluarga atau teman yang mendampingi sebaiknya juga well-informed terkait dengan penyakit yang diidap pasien. ”Mereka lebih tenang karena tahu apa yang harus dilakukan,” jelasnya.

Selain mindset diperbaiki, pola makan pun perlu diatur ulang. Menurut ahli gizi Dr Susianto Tseng, pasien kanker sebaiknya mulai beralih ke bahan pangan nabati (plant-based food). ”Makanan nabati tinggi antioksidan dan fitokimia sehingga bisa mencegah sekaligus membantu pemulihan kanker,” ungkapnya.

Ahli gizi yang berbasis di Jakarta itu mencontohkan diet bagi pasien kemoterapi. Susianto menjelaskan bahwa kemoterapi menggunakan obat sitotoksik untuk merusak sel kanker. ”Namun, karena masuk lewat pembuluh darah, obat berpotensi merusak sel tubuh yang normal,” papar Susianto. Kondisi tubuh pasien bisa drop.

Agar kondisi tubuh tetap fit selama pengobatan, asupan makanan perlu diperhatikan. Susianto menyebut menu plant-based bisa jadi alternatif. Sebab, pangan nabati punya pH basa. Sama dengan darah manusia yang tergolong weak alkali dengan pH 7,35–7,45. Menu daging-dagingan sebaiknya dihindari karena memiliki pH rendah. ”Sel kanker tumbuh di suasana asam,” terangnya.

Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) itu mengungkapkan, bahan pangan nabati juga bisa menurunkan risiko pertumbuhan sel kanker. Di sisi lain, sayur dan buah juga mengandung serat yang baik buat pencernaan serta menurunkan risiko hipertensi, stroke, hingga penyakit jantung koroner.

APA SAJA TANDA LELAH EMOSI?

Melawan kanker tak hanya menguras energi dan biaya. Pikiran dan mood juga ”tersedot” saat pengobatan. Berikut checklist gejala yang mungkin muncul pada kondisi lelah emosi.

  • Cepat lelah
  • Terus-menerus kecewa kepada orang lain
  • Putus asa
  • Merasa tidak ada yang mampu memahami dan menolong
  • Merasa tidak berharga
  • Sulit tidur
  • Mudah marah
  • Tidak mampu berkonsentrasi dan gelisah

Cermat Olah Buah dan Sayur

Menu plant-based memang baik buat pasien kanker maupun orang yang tak mengidap penyakit. Namun, untuk mendapat manfaat maksimal, perhatikan pengolahannya.

  • Persiapan
  • Pilih sayuran organik. Jika tidak ada, pilih sayuran yang ditanam secara hidroponik.
  • Jika tidak ada opsi organik atau hidroponik, bersihkan sayuran sebelum dimasak. Rendam dalam air yang dicampur sari jeruk nipis dan garam selama 10 menit, lalu bilas dengan air mengalir. Cara itu bertujuan melunturkan pestisida yang menempel.

Pengolahan

  • Utamakan pengolahan dengan cara direbus, dikukus, atau dibuat sup.
  • Hindari makanan yang diolah dengan cara dipanggang, diasap, dan dibakar.
  • Kurangi gorengan.
  • Jika harus menggoreng, pastikan gunakan minyak nabati. Hindari menggoreng dengan minyak yang dipakai berkali-kali karena berpotensi meningkatkan lemak trans.
  • Bagi pasien yang kesulitan makan atau kehilangan nafsu makan, buah dan sayur bisa disajikan dalam bentuk jus (tanpa ampas) atau smoothie (dengan ampas). Namun, dalam olahan, jangan tambahkan gula, madu, atau pemanis buatan.

Sayur dan Buah yang Baik Selama Masa Pengobatan

Sayuran cruciferous

  • Cruciferous adalah sayur dari famili kol-kolan atau Brassicaceae. Di antaranya, kubis, bunga kol, brokoli, dan pakcoy.

Buah dan sayur dengan kandungan karotenoid

  • Tandanya, sayur dan buah berwarna kuning, jingga, dan merah cerah. Contohnya, ubi jalar, tomat, wortel, mangga, semangka, dan cantaloupe (sejenis melon berdaging oranye).

Kedelai dan olahannya

  • Olahan kedelai mempunyai kandungan antioksidan berupa isoflavon yang tinggi. Contoh olahannya meliputi susu kedelai, tahu, dan tempe.

Biji-bijian (serealia) dan kacang-kacangan

  • Biji-bijian, terutama chia seeds, memiliki kandungan Omega 3 yang tinggi. Bagi yang tak memiliki alergi, kacang bisa menjadi sumber lemak baik dan protein.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : fam/c14/tia




Close Ads