alexametrics

Kampanye Moving On, Gagal Ginjal Bukan Akhir dari Segalanya

16 Agustus 2017, 19:12:35 WIB

JawaPos.com – Setiap orang yang divonis penyakit gagal ginjal pasti sudah patah semangat atau menyerah. Seolah hal itu adalah akhir dari segalanya. Seseorang yang sudah mengalami Gagal Ginjal Terminal (GGT) maka pengobatan yang bisa dilakukan adalah hemodialisis, peritoneal dialysis, dan transpalantasi ginjal.

Hemodialisis atau akrab disapa dengan istilah “cuci darah” adalah proses pembersihan darah dari zat-zat sampah, melalui proses penyaringan luar tubuh. Artinya hemodialisis menggunakan mesin sebagai pengganti fungsi ginjal menyaring darah.

Maka jangan menyerah. Berbagai pengobatan masih bisa dilakukan. Baxter, perusahaan global dalam bidang perawatan ginjal, meluncurkan kampanye ‘Moving On’ di Indonesia, untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai gagal ginjal kronis (GGK) dan pilihan perawatan cuci darah (seperti Peritoneal Dialisis (PD) dan Hemodialisis (HD)).

Kampanye ini bermaksud untuk menginspirasi pasien sakit ginjal dalam mendapatkan keputusan mengenai pilihan jenis perawatan yang ada dengan meningkatkan standar perawatan.

“Kampanye Moving On bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan mengenai dampak penyakit ginjal, dan bagaimana melalui perawatan yang tepat, pasien dapat menjalani hidup yang fleksibel dan mandiri. Melalui kampanye ini, kami ingin menginspirasi bahwa perawatan dialisis bukanlah penghalang bagi pasien untuk menjalani hidup yang aktif dan mandiri dan produktif,” jelas General Manager Dorothea Koh kepada wartawan, Rabu (16/8).

Kampanye yang diresmikan bersamaan dengan hari kemerdekaan Indonesia ini akan menampilkan tiga video pasien inspiratif yang menyoroti berbagai pilihan terapi dialisis yang memungkinkan pasien untuk lebih independen sehingga merasakan dampak yang lebih sedikit dari sakit ginjal dalam hidup mereka.

Ketiga seri video tersebut dapat dilihat pada Youtube (http://bit.ly/movingonYouTube, yang menampilkan pasien dengan perawatan cuci darah dapat bekerja dengan beragam profesi serta berkontribusi secara produktif bagi keluarga, lingkungan, dan negara.

Koordinator Wilayah Pernefri (Perhimpunan Nefrologi Indonesia) dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menjelaskan berdasarkan laporan edisi ke-7 Indonesian Renal Registry di tahun 2014, 56 parsen pasien ESRD (End Stage Renal Disease atau gagal ginjal kronik) tergolong dalam usia produktif dibawah 55 tahun. Dengan insiden tahunan sebanyak 35.000 kasus pada cuci darah, sangatlah penting untuk mengetahui penyebab dan pilihan terapi yang bisa dijalankan oleh pasien.

“Setiap orang memiliki faktor risiko. Ada orang yang masuk ke dalam orang-orang berisiko tinggi. Paling banyak karena diabetes dan hipertensi,” jelasnya.

Faktor risiko itu merupakan penyebab dari dua pertiga kasus gagal ginjal kronis. Pasien ESRD memiliki beberapa pilihan terapi, yang terdiri dari hemodialisis, peritoneal dialisis, serta transplantasi ginjal. Tren tersebut menjadi bukti pentingnya kesadaran akan penyakit ginjal serta pengetahuan tentang pilihan perawatan yang memberikan keleluasaan bagi pasien agar tidak terganggu pada masa transisi ke dialisis.

Pengobatan pasien gagal ginjal di antaranya transplantasi, Peritoneal Dialisis (PD) dan Hemodialisis (HD). PD adalah terapi yang dilakukan sendiri di rumah oleh pasien ESRD. Terapi bekerja di dalam tubuh, menggunakan lapisan perut (membran peritoneal) sebagai filter alami untuk menghilangkan racun dari aliran darah.

Cairan PD akan berada di dalam rongga sebelum pengeringan. Proses kemudian berulang tiga sampai empat kali dalam setiap sesi terapi. Cairan dengan konsentrasi dektrosa yang lebih tinggi kadang-kadang digunakan untuk menghapus jumlah cairan dan racun yang lebih tinggi yang dapat ditarik dari tubuh.

Sedangkan pada terapi HD, darah pasien dikirim melalui filter untuk menghilangkan racun dari tubuh. Darah bersih kemudian dikembalikan ke tubuh setelah proses penyaringan selesai. HD biasanya dilakukan di rumah sakit atau pusat dialisis tiga kali seminggu selama empat sampai lima jam per sesi.

“Memang yang paling tepat adalah transplantasi, namun tentu memerlukan waktu yang lama untuk donor bisa hitungan tahunan. Intinya penyakit gagal ginjal bukan akhir dari segalanya,” tandas Tunggul.

Editor : Yusuf Asyari

Reporter : (ika/JPC)



Close Ads
Kampanye Moving On, Gagal Ginjal Bukan Akhir dari Segalanya