alexametrics

Cerita Intan Khasanah Tentang Ganasnya Kanker Limfoma Hodgkin

13 November 2019, 22:35:12 WIB

JawaPos.com – Salah satu jenis kanker yang bisa diketahui gejalanya sejak dini adalah kanker Limfoma Hodgkin. Masyarakat lebih mengenal kanker ini karena menyerang kelenjar getah bening yang terletak di leher dan kepala. Salah satu gejalanya adalah dari munculnya benjolan di area tersebut.

Data Globocan 2018 menunjukkan 79.990 kasus baru dengan 26.167 kematian pada tahun
2018 diseluruh dunia. Di Indonesia terdapat 1.047 kasus baru dan 574 orang meninggal pada
tahun 2018. Insiden Limfoma Hodgkin biasanya memiliki dua puncak yaitu pada saat usia dewasa muda (20-24 tahun) dan lanjut usia (75-79 tahun).

Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (13/11), seorang penyintas kanker bernama Intan Khasanah yang mengidap kanker Limfoma Hodgkin menceritakan pengalamannya dalam melawan kanker Limfoma Hodgkin. Cerita dan pengalamannya bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya yang barangkali memiliki gejala serupa untuk lebih menyadari keberadaan penyakit itu.

“Perjalanan penyakit saya berawal tahun 2013, bermula dari sakit demam tinggi dan muncul benjolan kecil di leher awalnya mengira hanya sakit TBC, sehingga kondisi saya semakin memburuk,” ungkapnya.

Benjolan di lehernya membesar dan sesak di dada, terasa lemas, dan kelelahan ekstrem. Setelah dilakukan pengangkatan benjolan di leher, diagnosa akhirnya ditegakkan bahwa dia terkena kanker Limfoma Hodgkin stadium 4.

“Setelah diagnosa ditegakkan, saya telah menjalani beberapa pengobatan medis, yang hingga tahun 2019 yaitu sebanyak 26 kali kemoterapi, yaitu 6 kali regimen kemoterapi ABVD kemudian diulang kembali karena hasilnya belum maksimal, setelah itu mendapatkan 1 kali regimen kemoterapi DHAP, radiasi dan operasi,” katanya.

Kemudian penyakit masih kambuh, sehingga dilakukan pemeriksaan CD30, hasilnya hodgkin limfoma CD30 positif. Maka dia pun menjalani pengobatan atau terapi targeted therapy terkini yakni brentuximab vedotin.

“Sekarang saya sudah dinyatakan remisi total setelah 9 kali berobat dengan BV. Efek yang dirasakan juga lebih minim dibandingkan dengan obat kemoterapi sebelumnya,” terangnya.

Dia berpesan untuk para pejuang kanker, jika memang diagnosa sudah ditegakkan, jalani saja
pengobatannya sembari tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Intan menilai kanker bukan akhir dunia.

“Justru kanker adalah tanda bahwa kamu spesial dan kuat untuk mampu melawan dan menaklukkannya,” ujarnya.

 

Peluang Kekambuhan dan Pengobatannya

 

Dokter Spesialis Hematologi Onkologi Medik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, SpPD-KHOM, M.Epid, menjelaskan Limfoma Hodgkin memiliki angka kesembuhan yang tinggi. Meski demikian, masih ada kemungkinan kecil sekitar 10-30 persen kanker ini bisa kambuh.

Pengobatan Limfoma Hodgkin yang kambuh adalah kemoterapi dosis tinggi yang dilanjutkan dengan transplantasi sumsum tulang. Regimen kemoterapi untuk kasus Limfoma Hodgkin kambuh tidak banyak mengalami perubahan dalam 30 tahun terakhir ini. Transplantasi sumsum tulang juga tidak selalu dapat dilakukan pada kasus Limfoma Hodgkin kambuh karena masalah finansial dan
ketidakmampuan fisik terutama pasien-pasien usia lanjut.

“Saat ini terdapat inovasi pengobatan non transplantasi dengan Antibody Drug Conjugate (ADC) yang dikategorikan sebagai terapi bertarget. Obat pintar ini berbeda dengan kemoterapi karena mampu mengenali sel Limfoma Hodgkin melalui ikatan antara antibodi monoklonal anti-CD30 dengan CD30 yang berada di permukaan sel Limfoma Hodgkin.

Obat pintar ini merupakan kombinasi antibodi dan zat sitotoksik yang disebut ADC. ADC ini mengandung dua komponen yaitu antibodi monoklonal anti-CD30 yang dinamakan Brentuximab dan monomethyl auristatin E (MMAE) yang merupakan agen anti-neoplastik sintetik dan dinamakan Vedotin. Sehingga obat pintar ini diberi nama Brentuximab Vedotin (BV).

BV bekerja dengan cara berikatan dengan CD30 di permukaan sel Limfoma Hodgkin untuk selanjutnya masuk ke dalam sel dan melakukan penghentian siklus kehidupan sel sehingga terjadi apoptosis sel (kematian sel). Dengan demikian, obat bekerja dengan mengenali dan menghancurkan hanya sel Limfoma Hodgkin dan tidak menghancurkan sel lain, sehingga efek samping yang ditimbulkannya relatif lebih ringan dibandingkan kemoterapi pada umumnya.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads