src="https://cdn.geozo.com/mfel17291/ilv/0mp/30y8qh678vuq687/pky52d4.go">

Selain Imunitas, Wajib Prokes dan Vaksinasi

13 Agustus 2022, 12:26:10 WIB

JawaPos.com – Kementerian Kesehatan sudah merilis hasil survei serologi ketiga yang menyatakan 98,5 persen masyarakat Indonesia sudah memiliki antibodi SARS-CoV-2. Namun, ahli epidemiologi menyatakan kabar itu tidak bagus-bagus amat. Masyarakat diminta tetap waspada dan melengkapi vaksin Covid-19.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menyatakan, tidak cukup seberapa banyak orang yang sudah memiliki antibodi. Namun, harus diketahui juga berapa kadarnya hingga berapa lama antibodi itu bertahan. ’’Fakta ilmiahnya, sejauh ini adanya antibodi tidak serta-merta menjamin tidak ada gelombang atau dampak suatu gelombang (penularan),’’ ujarnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin (12/8).

Dicky menjelaskan, bagi mayoritas penerima vaksin Covid-19 atau terinfeksi secara alami, kekebalannya hanya sementara. Banyak yang akhirnya kadar antibodinya turun. “Kalau bicara lansia, (antibodinya) hanya bertahan tiga sampai empat bulan,” ungkapnya.

Tidak heran jika Indonesia masih mengalami kenaikan kasus hingga peningkatan kematian. Hingga kemarin, jumlah kasus positif bertambah jadi 6.091 orang dan 18 orang meninggal. Memang, jika ditinjau, pertambahan kasus tidak signifikan dan cenderung melambat.

Untuk itu, meski hampir seluruh masyarakat Indonesia memiliki antibodi SARS-CoV-2, vaksinasi booster tetap wajib dilakukan. Selain booster, dia menyarankan masyarakat tertib melaksanakan protokol kesehatan. Itu dapat mengurangi terpapar Covid-19.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : lyn/c7/bay

Saksikan video menarik berikut ini: