alexametrics

Epidemiolog Bilang Vaksin Kurangi Angka Kesakitan dan Kematian

13 Januari 2021, 09:59:23 WIB

JawaPos.com–Epidemiolog memastikan vaksin dapat mengurangi angka kesakitan atau kematian akibat Covid-19 dalam waktu cepat. Untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity), dibutuhkan waktu lebih dari satu tahun.

”Yang pasti, paling cepat, adalah vaksin dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian,” kata Epidemiolog Universitas Padjadjaran Panji Fortuna Hadisoemarto seperti dilansir dari Antara Rabu (13/1).

Dengan angka kesakitan yang berkurang, menurut dia, diharapkan tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan dan rumah sakit darurat tetap terjaga di level aman. Saat ini, tingkat keterisian tempat tidur di kabupaten/kota sudah di atas 80 persen atau dalam level kritis.

”Jika angka kesakitan berkurang, pasien yang dirawat pun berkurang sehingga BOR (bed occupancy rate) tidak akan pernah penuh,” tutur Panji Fortuna Hadisoemarto.

Panji menjelaskan, ada pandangan keliru di masyarakat bahwa vaksin dapat membentuk kekebalan kelompok dalam waktu cepat. Lebih keliru lagi, vaksin disamakan dengan obat yang dapat menyembuhkan penyakit Covid-19.

”Kekebalan kelompok paling tidak butuh waktu setahun dari sekarang karena harus mencakup 70 persen penduduk. Kekebalan kelompok, tergantung dari seberapa tinggi penularan setelah vaksinasi. Vaksin dapat mencegah sakit tapi tidak mencegah penularan. Kalau penularan (masif) terjadi, herd immunity tidak akan terjadi,” ungkap Panji.

BPOM menyatakan efikasi vaksin Sinovac 65,3 persen. Menurut Panji, efikasi beda dengan efektivitas karena efikasi diukur pada tingkat uji klinis. Dalam kenyataannya, jika seseorang punya penyakit penyerta (komorbid) sangat mungkin efikasi 65,3 persen tidak tercapai.

”Mungkin lebih rendah, tidak mungkin lebih tinggi. Tapi yang diharapkan tidak akan menurun terlalu jauh,” tutur Panji Fortuna Hadisoemarto.

Kekebalan kelompok juga tergantung seberapa lama perlindungan yang diberikan vaksin. Vaksin Sinovac yang akan disuntikkan di Jabar mulai Kamis (14/1), harus diinjeksi ke satu orang dengan dua dosis atau dua kali penyuntikan. Jarak waktu antara penyuntikan pertama dan kedua adalah dua pekan. ”Vaksin Sinovac baru akan memberi proteksi dua minggu setelah penyuntikan kedua,” terang Panji.

Selain itu, kekebalan kelompok dipengaruhi sebanyak apa cakupan masyarakat yang akan divaksin. Secara nasional orang yang harus divaksin 181,5 juta jiwa. Tahap pertama untuk pekerja di kantor kesehatan berjumlah 1,3 juta jiwa.

”Ini baru satu persen saja, sedangkan herd immunity cakupannya harus 70 persen. Jadi masih buruh waktu kurang lebih satu tahun lagi. Tapi untuk mengurangi angka kesakitan, itu pasti,” ujar Panji

Panji mengatakan, orang yang positif Covid-19 sebetulnya tidak perlu disuntik vaksin. Tapi tidak menutup kemungkinan orang divaksin tapi ternyata positif Covid-19 tanpa diketahui.

”Tapi hingga kini belum ada laporan orang yang demikian mengalami efek samping yang buruk. Setelah disuntik vaksin, orang tidak perlu melakukan isolasi mandiri selama dua pekan. Tapi kan pasti ada yang nanya, kan sudah divaksin kenapa masih pakai masker? Jawab saja, lebih baik dobel perlindungan daripada satu,” ujar Panji.

Panji yakin vaksin Sinovac memiliki tingkat keamanan tinggi untuk disuntikkan karena sudah mengantongi izin penggunaan darurat dari BPOM. Apalagi vaksin itu sudah mengantongi sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia.

Panji menambahkan, secara umum tujuan vaksinasi untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian. Selain itu, membentuk kekebalan kelompok, memperkuat sistem kesehatan masyarakat dan menjaga produktivitas serta mempercepat pemulihan ekonomi dan sosial.

Penanggung Jawab Komunikasi Sosial Politik Pelaksana KPCEN Dila Amran mengatakan, setelah mendapat sertifikasi halal dan suci dari MUI serta izin penggunaan darurat dari BPOM, vaksin Sinovac saat ini sangat aman disuntikkan.

”Tapi jangan lupa setelah divaksin protokol kesehatan harus dijalankan. Pesannya adalah vaksin aman, imun, dan prokes dijalankan,” kata Dila.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Antara


Close Ads