alexametrics

5 Kunci Menjaga Makanan yang Aman dan Bebas Bakteri Penyakit

12 Agustus 2019, 16:45:00 WIB

JawaPos.com – Anak-anak harus mendapatkan makanan dan minuman yang terjamin gizinya. Tak hanya soal nutrisi, asupan bagi anak apalagi dalam masa tumbuh kembang harus dipastikan aman dan bersih. Apalagi saat ini anak di dunia masih menghadapi ancaman masalah gizi kurang (pendek/stunting, dan kurus), atau bahkan obesitas atau kegemukan.

Dalam masa tumbuh kembangnya diawali dengan 1000 hari pertama (Golden Age), anak jangan sampai kekurangan gizi mikro, yang berpotensi menjadi hidden hunger (bentuk kekurangan gizi mikro berupa defisiensi zat besi, yodium, asam folat, vitamin A dan beberapa jenis vitamin B yang tersembunyi). Hidden hunger ini memiliki dampak serius karena dari luar tidak menampakkan gejala.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, prevalensi stunting menurun menjadi 30,8 persen dari 37,2 persen di 2013. Prevalensi gizi kurang (underweigth) juga membaik dari 19,6 persen menjadi 17,7 persen pada 2018. Sedangkan prevalensi kurus (wasting) turun ke posisi 10,2 persen (2018) dari 12,1 (2013). Meskipun angka stunting menurun, masih belum memenuhi syarat yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu di ambang batas 20 persen.

Ahli pangan dan Ketua Pusat Pangan SEAFAST Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, mengatakan pentingnya keamanan makanan kerap diabaikan. Makanan yang dianggap sehat jika tidak aman menjadi tidak berarti. Maka anak dan keluarga bisa terancam penyakit.

“Oleh karena itu makanan harus diupayakan aman, karena jika terdapat kontaminan makanan itu tidak dapat dimanfaatkan tubuh karena bisa menimbulkan penyakit,” katanya kepada JawaPos.com, Senin (12/8).

Ciri-ciri Makanan Tak Sehat

Makanan yang terkontaminasi bisa menyebabkan penyakit karena mengandung kuman seperti bakteri, virus, parasit, atau zat kimia berbahaya, sehingga berisiko menimbulkan berbagai penyakit. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, 1 dari 10 orang di dunia sakit setelah menyantap makanan yang terkontaminasi. Dari jumlah itu sekira 420 ribu orang meninggal setiap tahunnya. Jadi keamanan pangan memang tak bisa diabaikan. Maka ada 5 kunci keamanan makanan versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

1. Menjaga kebersihan

Biasakan anak untuk mencuci tangan sebelum makan atau memegang makanan. Sehingga makanan tak akan terkontaminasi kuman penyakit.

2. Penyimpanan Makanan

Pisahkan makanan matang dan mentah agar tak terjadi kontaminasi silang. Misalnya saat disimpan di dalam kulkas atau lemari pendingin.

3. Masaklah dengan Benar

Terkait dengan keamanan pangan, penyakit bawaan makanan (foodborne disease) dapat mempengaruhi individu dari segala usia. Tetapi yang paling rentan adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun dan orang tinggal di wilayah berpenghasilan rendah.

“Keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen. Setiap orang memiliki peran dalam menjaga keamanan makanan, salah satunya para ibu agar memasak dengan benar dan higienis,” tutur Purwiyatno.

4. Air dan Kebersihan Makanan

Jajanan anak di pinggir jalan seringkali tidak higienis. Dampaknya, anak dengan mudah terserang penyakit seperti sakit perut atau tifus. Dilansir dari The Tribune India, sebagian besar pedagang kaki lima tidak mempraktikkan metode higienis dalam menyiapkan makanan.

Makanan tidak ditutup terpapar lalat, burung, dan atau serangga, yang menyebabkan patogen bawaan pada makanan. Pedagang kaki lima juga sering tak memperhatikan bagaimana mencuci wadah, penggunaan air bersih, dan pembuangan limbah. Maka konsumen harus menghindari makanan yang tidak tertutup. Para ibu disarankan memastikan makanan yang mereka sajikan disiapkan dalam kondisi higienis.

5. Bahan Baku yang Aman

Menurut Prof Purwiyatno, pengawasan keamanan pangan harus dimulai bukan sejak pangan diolah, namun sejak diproduksi. Keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen.

Global Co Chair of Scaling Up Nutrition Business Network (SBN), Axton Salim menjelaskan dunia usaha memiliki peran penting dalam mengatasi malnutrisi. Antara lain dengan menciptakan makanan sehat (fortifikasi pangan), menggunakan bahan pangan lokal dengan biaya produksi yang tidak mahal. Sehingga bisa dijual dengan harga yang terjangkau masyarakat.

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk itu menjelaskan fortifikasi bisa dengan menambahkan vitamin B dan zat besi pada bahan baku untuk memenuhi kebutuhan gizi mikro guna mengatasi malnutrisi. Selain melakukan fortifikasi pangan, sejumlah inisiatif bisa dilakukan seperti edukasi remaja melalui aplikasi mobile agar semakin banyak remaja menyadari pentingnya gizi dan tubuh yang sehat.

“Dunia usaha bisa berkontribusi dan berperan aktif dalam pengentasan masalah nutrisi di Indonesia dan menyukseskan SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) yang dicanangkan PBB dan hendak dicapai pada 2030. Semua bisa terlibat dan mencari inovasi baru untuk menjawab masalah malnutrisi,” tandasnya.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads