alexametrics

Hindari Bengkak Usai Divaksin Covid-19, Ahli: Jarumnya Harus Panjang

12 Januari 2021, 12:06:53 WIB

JawaPos.com – Vaksin Covid-19 Sinovac dari Tiongkok sudah disetujui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dengan diterbitkannya izin penggunaan darurat (EUA). BPOM menjamin vaksin Covid-19 tersebut aman dan tidak menimbulkan efek samping serius.

Menurut Kepala BPOM Penny K Lukito, hasil evaluasi terhadap data dukung keamanan vaksin CoronaVac yang diperoleh dari Turki, Brasil dan Indonesia setelah 3 bulan uji klinis fase 3 dan laporan interim tim riset Universitas Padjajaran, vaksin CoronaVac disebut aman dengan kejadian efek samping ringan hingga sedang. Ringan seperti nyeri pembengkakan di lokasi suntikan, nyeri otot dan demam. Dengan derajat berat, diare hanya 0,1 persen.

“Efek samping itu tak berbahaya dan dapat pulih kembali,” tegasnya dalam konferensi pers virtual, Senin (11/1).

Ahli vaksin yang juga Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof. Sri Rezeki menjelaskan, vaksin Covid-19 Sinovac merupakan vaksin inactivated, alias vaksin dengan virus yang dimatikan. Artinya gejala efek samping atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) pasca imunisasi akan ringan.

“KIPI-nya sangat ringan. Kenapa? Itu virus mati, kita harus tambahkan zat ajuvan untuk ningkatin respon imun, nah zat ajuvan inilah yang bikin KIPI, tapi lokal,” katanya.

Lalu bagaimana agar pasien tak bengkak dan merah pada kulit yang disuntik? Menurut Sri, ternyata secara teknis jarum suntik yang digunakan harus panjang.

“Agar tak merah dan bengkak, suntikan harus masuk ke otot. Jarumnya panjang dan dalam suntiknya. Kalau jarumnya pendek, akan bengkak. Saya yakin dokter sudah tahu bagaimana teknisnya,” tuturnya.

Contoh vaksin lain dengan virus inactivated misalnya seperti vaksin rabies dan hepatitis A. “Kalau soal Inactivated ini, Bio Farma sudah jagonya,” tegas Prof Sri.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani


Close Ads