alexametrics

Kuman Tuberkulosis Pada Anak Sulit Didiagnosa, Simak 5 Faktanya

11 Desember 2019, 08:15:24 WIB

JawaPos.com – Kuman tuberkulosis (TB) menular lewat udara. Kuman tersebut bersarang di paru-paru dan bisa menyerang organ lainnya seperti selaput otak, usus, tulang, kelenjar getah bening, dan ketiak. Pada anak, kuman TB atau penyakitnya sulit dideteksi. Mengapa?

Chief of Global Drug Facility Stop TB Partnership Brenda Waning menjelaskan, kasus penyakit tuberkulosis pada anak sulit dideteksi. Sebab anak di bawah usia 5 tahun belum bisa diminta untuk batuk dan mengeluarkan lendir air liur. Tujuannya untuk mengambil sampel air liur dan memeriksa kumannya di laboratorium.

“Jadi anak susah didiagnosa apakah terpapar TB,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/12).

Direktur Direktur Eksekutif Stop TB Partnership Lucica Ditiu mengatakan target tiga tahun mendatang yakni 2022 akan menjadi sangat penting bagi komunitas TB pada umumnya. Kemudian para kader dilatih untuk mencari pasien atau penderitanya untuk memutus mata rantainya.

“Inilah saat kita membuat penularannya berhenti,” tegasnya.

Praktisi kesehatan lainnya, Kepala Pediatri, Aliansi Kesehatan Global Gheskio Haiti, Vanessa Rouzier, ikut menjelaskan apa saja perbedaan kasus tuberkulosis pada anak dan dewasa. Dan mengapa tuberkulosis sulit didiagnosa pada anak.

1. Baru 500 Anak yang Tertangani

Dari 13 ribu kasus tuberkulosis pada anak setiap tahun, sampai baru-baru ini, hanya 500 anak kecil secara global yang menerima pengobatan. Dan mereka yang dirawat diberi obat-obatan yang ditujukan untuk digunakan pada orang dewasa.

Namun, anak-anak memerlukan formulasi berbeda untuk perawatan dibandingkan orang dewasa-yang lebih sesuai dengan ukuran anak yang lebih kecil dan yang dapat diambil lebih mudah. Misalnya didispersikan dalam air daripada dihancurkan dan dicampur.

“Dan di antara itu hanya 500 anak yang tertangani. Jadi ada banyak yang tak terdiagnosa. Atau salah diagnosa. Itu fatal banget ya. Ini penyakit yang harus ditangani, kasihan kan anak-anak kena dan terpapar,” kata Brenda.

2. Bisa Salah Diagnosa atau Tak Terdiagnosa

Tuberkulosis pada anak gejalanya tidak seperti flu pada umumnya. Dan sulit untuk mengambil sampel pada anak hingga diobservasi. Dokter harus mendiagnosa dengan baik dan benar.

3. Gejalanya Berbeda Pada orang Dewasa

Gejala TB pada pasien dewasa dan anak berbeda. Pada dewasa bisa disertai dengan batuk, demam, dan berat badan turun. Pada anak bisa juga ditandai dengan berat badan pada anak yang stagnan. Saat diperiksa dokter, gejala awal sang anak bisa terlihat lemas, kurang gizi, berat badan tetap, dan batuk tak sesering orang dewasa dengan TB. Anak yang trpapar bisa saja berat badannya stagnan. Dan tiap bulan atau usianya bertambah tapi berat badannya stagnan.

“Berat badan mereka tak merosot tetapi juga tak bertambah,” kata Vanessa.

4. Bayi dan Anak Lebiu Rentan

Uji tes pada orang dewasa mudah dilakukan lewat batuk dan dahak air liurnya. Seseorang dengan TB tinggal dalam satu rumah dengan bayi dan anak-anak tentu punya risiko penularan tinggi. Tentu saja hanya sedikit anak-anak terdiagnosa karena memang mereka ada di rumah dan belum tahu atau tak terdiagnosa sakit. Dokter harus memeriksa saluran cernanya selain tentunya paru-paru.

5. Jujurlah dan Akui Tertular TB

Seorang anggota keluarga dengan tuberkulosis yang tinggal dalam satu lingkungan tempat tinggal bersama anak-anak harus mengakui dan mengumumkan kepada keluarganya bahwa dia terserang TB. Dengan begitu, sang pasien harus rutin melakukan pengobatan selama 8 bulan sampai 1 tahun. Begitu juga sang bayi dan anak harus dicek potensi penularannya.

“Sayangnya ada saja anggota keluarga yang mungkin malu tidak mau mengakui dirinya tertular. Atau ada juga sebagai masyarakat yang masih menganggap mitos penyakit TB adalah penyakit kutukan,” tandas Vanessa.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani


Close Ads