alexametrics

Dilarang Edar, Ketahui Cara Singkirkan Obat Ranitidin di Rumah

11 Oktober 2019, 12:57:52 WIB

JawaPos.com – Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) belum lama ini memutuskan untuk menarik obat Ranitidin dari pasaran. Sebab dianggap bisa memicu kanker. Lantas, bagaimana jika masyarakat masih memiliki obat Ranitidin di rumah?

“Kalau masih menyimpan (ranitidin) di rumah, jangan diminum atau dilanjutkan. Sebaiknya dibuang,” jelas Ketua Ikatan Apoteker Indonesia Nurul Falah Eddy Pariang  usai konferensi pers bersama BPOM di Jakarta, Jumat (11/10).

Ikatan Apoteker Indonesia selalu memberikan edukasi dalam menggunakan obat, menyimpan dan membuang obat yang bijaksana. Namanya program ‘Dagusibu’. Sehingga nantinya tidak mencemari lingkungan atau disalahgunakan.

Dagusibu merupakan akronim dari Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang. Yang pertama adalah Dapatkan, berarti dapatkan obat di tempat yang benar, agar terjamin manfaatnya, keamanannya dan kualitasnya.

Kedua, Gunakan artinya gunakanlah obat sesuai dengan indikasinya (diagnosa penyakit), sesuai dosisnya, sesuai aturan pakainya, dan sesuai cara pemberiannya. Ketiga, Simpan, yaitu simpan obat sesuai yang tertulis di kemasan, kecuali bila harus disimpan secara khusus. Keempat adalah Buang. Membuang obat juga harus dengan prosedur yang benar. Obat yang sudah rusak atau kadaluwarsa harus segera di buang, sehingga tidak dapat lagi digunakan.

“Membuang obat adalah gunakan masker dan sarung tangan, lalu harus dipecah, dirobek, hancur terlebih dahulu sebelum dibuang. Atau bisa langsung ke dinas lingkungan jika dekat di rumah,” tegasnya.

Nurul Falah sendiri mengungkapkan, selama ini Ranitidin memang obat legal dan sudah terdaftar di BPOM sejak 30 tahun terakhir. Tapi setelah adanya pemberitahuan dan perintah BPOM, dunia farmasi berkomitmen merespons dan mematuhi perintah tersebut.

“Teman-teman di farmasi diperintahkan, berhenti bahkan recall menarik di pelayanan seperti di farmasi RS dan apotek. Maka ini obat legal, sampai adanya penelitian lebih lanjut oleh BPOM, tidak bisa ditindak sebagai pidana jika masih memiliki obat ini,” tegasnya.

Nurul Falah mengungkapkan, para dokter dan pelayanan kefarmasian pasti sudah mengerti obat alternatif pengganti Ranitidin. Ranitidin hanya merupakan jenis generik dengan memiliki nama merek dagang yang beragam.

“Obat-obatan seperti antasida jika mengalami asam lambung berlebihan atau H2 blocker, atau obat untuk GERD pasti tenaga medis sudah mengerti,” jelasnya.

Pihaknya juga sudah mematuhi perintah BPOM untuk menarik peredaran dan para apoteker serta produsen obat juga sudah menghentikan produksi. Dia mengingatkam masyarakat yang masih menyimpan obat itu di rumah-rumah, sebaiknya tidak diminum lagi.

Seperti diketahui, BPOM menarik Ranitidin dari pasaran karena dapat memicu kanker. Temuan cemaran NDMA dalam jumlah yang relatif kecil pada sampel produk yang mengandung bahan aktif ranitidin. NDMA merupakan turunan zat Nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami.

Studi global memutuskan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari (acceptable daily intake), bersifat karsinogenik (memicu kanker) jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads