alexametrics

BPOM Tarik Obat Ranitidin, PB IDI Sebut Bentuk Kehati-hatian

11 Oktober 2019, 13:52:59 WIB

JawaPos.com – Organisasi profesi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ikut menanggapi keputusan penarikan obat Ranitidin dari pasaran oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). PB IDI menindaklanjutinya dengan akan menggelar rapat formal bersama para dokter.

BPOM menarik Ranitidin karena adanya laporan cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) pada produk obat tersebut. Hal itu sesuai laporan US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA), bahwa NDMA bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

“Dari PB IDI sampaikan kepada tenaga kesehatan di lingkungan PB IDI. Nanti ada rapat di PB IDI kami ajukan bentuk formal seperti apa,” kata Ketua Kajian Obat PB IDI dr. Rika Yuliwulandari dalam konferensi pers bersama BPOM di Jakarta, Jumat (11/10).

Menurut dr. Rika, isu penarikan Ranitidin adalah sebagai upaya bentuk kehati-hatian. NDMA, kata dia, banyak ditemukan di lingkungan secara umum dalam jumlah yang berbeda.

“NDMA ini adalah kontaminan yang umum yang ditemukan di lingkungan. Ada di daging, air, susu, ikan. Nah dalam obatnya sendiri sebetulnya aman karena sudah dipalai bebas termasuk di luar negeri termasuk obat bebas. Dan di Indonesia obat yang pakai resep dokter,” jelas dr. Rika.

Sehingga nanti jika cemaran NDMA dan toksinnya sudah bisa diminimalisir dalam penelitian selanjutnya, menurut dr. Rika, Ranitidin bisa dipakai lagi. Sebab jika bicara soal karsinogen, kata dr. Rika, setiap hari saja masyarakat masih terpapar karsinogen.

“Kita sehari-hari masih terpapar. Daging dibakar, susu, dan produk olahan. Dan jika obat menimbulkan kanker kan butuh paparan yang jangka panjang,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Ahli Penyakit Dalam dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia dr. Prasetyo Widhi Buwono memaparkan penelitian terkait Ranitidin yang pernah diuji coba di luar negeri. Dalam penelitian tersebut diuji coba pada hewan tupai.

“Bahwa pada tupai, butuh 3-6 bulan tercemar NDMA terkena kanker. Nah pada manusia tak otomatis begitu.dan memang pasien-pasien kanker yang diteliti cendrung terpapar NDMA lebih tinggi seperti pasien kanker usus dan kanker lambung. Namun itu butuh waktu jangka panjang, dan tak pasti,” kata dr. Prasetyo.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads