alexametrics

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, Awasi Kesehatan Mental Remaja

11 September 2019, 09:46:38 WIB

JawaPos.com – Dunia mengajak siapapun untuk ikut mencegah insiden bunuh diri lewat peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Caranya dengan menperhatikan kondisi kesehatan masyarakat baik kesehatan jasmani maupun mental. Terutama pada remaja.

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dari Universitas Indonesia (UI) pernah meneliti dalam tesisnya yang berjudul ‘Deteksi Dini Faktor Risiko lde Bunuh Diri Remaja di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/ Sederajat di DKI Jakarta’. Dari penelitian ini, didapatkan 5 persen pelajar dari 910 pelajar SMAN dan SMKN akreditasi A di DKI Jakarta memiliki ide bunuh diri.

Penelitian yang dilakukan terinspirasi oleh kompleksitas siklus hidup fase remaja. Pasalnya pada fase remaja terjadi perkembangan yang ditandai oleh perubahan fisik, psikologis, kognitif, dan sosial.

“Negara ini akan tumbuh menjadi negara maju jika SDM-nya berkualitas. Berkualitas secara fisik dan intelegensia serta kejiwaannya, itu kalau kita mau kejar generasi emas 2045,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (10/9).

Menurut dr. Nova, kesehatan mental pada remaja harus menjadi perhatian seiring perkembangan era media sosial dan arus informasi yang begitu masif. Untuk kasus bunuh diri pada remaja, misalnya, salah satu hal penting yang dapat dilakukan yaitu deteksi dini. Ini bertujuan untuk menemukan faktor risiko penyebab bunuh diri. Salah satunya adalah peran orang tua untuk memerhatikan perilaku anak-anak mereka dalam kesehariannya.

Maka di tengah era media sosial dan digital, pola asuh juga berubah. Orang tua memiliki peran sentral yang bisa berkoordinasi dengan sekolah untuk mendeteksi dini ide bunuh diri. Dia meminta orang tua lebih peka untuk melihat adanya perubahan perilaku pada anaknya.

“Dan kita sudah punya UU Kejiwaan sejak tahun 2014, undang-undangnya sudah ada, tinggal implementasinya saja”, ujarnya.

Selain itu,  menyoroti masalah kesehatan kejiwaan yang juga harus menjadi salah satu fokus pemerintahan. Menurut Nova, yang juga merupakan psikiater profesional, isu mengenai masalah kejiwaan dan mental sudah memasuki masa kritis karena sudah menjangkit anak-anak muda namun belum banyak menjadi prioritas pemerintah saat ini.

Para ahli dari Harvard Club Indonesia (HCI), yang beranggotakan alumni-alumni Universitas Harvard di Indonesia, mengupas berbagai tantangan sektor kesehatan dari berbagai aspek. Isu kesehatan mental juga menjadi sorotan.

Presiden Harvard Club Indonesia Melli Darsa menilai kesehatan adalah pra-syarat untuk menghasilkan manusia-manusia unggul Indonesia dan berdaya saing global. Namun, lanjutnya, sayangnya perhatian pemerintah selama ini masih amat terfokus pada kesehatan fisik sementara kesehatan mental atau kesehatan jiwa belum banyak disentuh.

“harus membahas komprehensif, baik kesehatan fisik dan kesehatan mental karena manusia unggul Indonesia itu harus sehat badannya dan sehat jiwanya,” kata Melli.

Fakta Kasus Bunuh Diri

Menurut UNICEF (2016) terdapat sedikit penurunan angka kematian remaja dari 126 kematian per 100.000 pada tahun 2000 menjadi 111 per 100.000 pada tahun 2012. WHO (2016) mencatat bahwa kematian pada remaja laki-laki usia 15-19 tahun adalah karena kecelakaan lalu lintas, kekerasan interpersonal, dan menyakiti diri sendiri, sementara pada perempuan disebabkan oleh kondisi maternal dan menyakiti diri sendiri.

WHO menyoroti bahwa banyak negara yang gagal melakukan perhitungan akurat tentang jumlah kasus bunuh diri. Padahal pada tahun 2012 diperkirakan terdapat 804.000 kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia (World Health Organization, 2014).

Suicide rate atau angka bunuh diri didasarkan pada jumlah orang yang meninggal karena bunuh diri per 100.000 penduduk. Di Indonesia sendiri, angka nasional yang terlihat berdasarkan data dikeluarkan World Health Organization, adalah 3,4/100.000 populasi.

Sedangkan, berdasarkan data Global School-Based Student Health Survey (2015) di Indonesia, ide bunuh diri remaja perempuan adalah 5,9 persen dan laki-laki 4,3 persen. Namun percobaan bunuh diri pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, yaitu 4,4 persen dan perempuan 3,4 persen.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Close Ads