alexametrics

Vaksin Sinovac Manjur Hanya 65,3 Persen, Ahli: Tak Ada yang 100 Persen

11 Januari 2021, 18:45:23 WIB

JawaPos.com – Vaksin Covid-19 dari Sinovac asal Tiongkok sudah diumumkan tingkat kemanjurannya di Indonesia berdasarkan hasil uji klinis fase III dan laporan interim tim riset di Bandung, Jawa Barat. Hasilnya tingkat efikasi atau kemanjurannya mencapai 65,3 persen. Angka itu jauh dari efikasi di Brasil 78 persen dan Turki 91,25 persen. Pertanyaannya, dengan angka efikasi sebesar itu, mampukah menurunkan kasus Covid-19 di tanah air?

“Hasil 65,3 persen diharapkan mampu menurunkan. Tentunya akan sangat berarti tekan pandemi. Di samping upaya lain 3M yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun,” tegas Kepala BPOM Penny K Lukito dalam konferensi pers virtual, Senin (11/1).

Menurut Penny, terkait efikasi dan kemanjuran pasca vaksinasi tentunya akan terus dipantau efektivitas vaksin di masyarakat. Sama seperti uji klinis vaksin, menurutnya nanti dihitung berapa persen masyarakat yang masih tertular Covid-19 setelah divaksin.

Baca juga: Vaksin Sinovac di Indonesia Manjur 65,3 Persen, Izin Penggunaan Terbit

“Tentu setelah divaksin, nanti akan masuk dalam perhitungan terus ya. Nanti akan jadi perhitungan terus dari efikasinya dan akan menunjukkan efektivitas vaksin tersebut di populasi. Itu akan jadi pemantauan, dan perhitungan jangka panjang,” jelas Penny.

Keraguan angka efikasi itu dijawab santai oleh ahli imunisasi yang juga Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Prof Sri Rezeki. Saat ditanya soal angka efikasi atau kemanjuran tersebut, menurut Prof Sri Rezeki, tak ada vaksin di dunia dengan efikasi 100 persen.

Baca juga: Jika Vaksin Sinovac Picu Efek Samping, Ini yang Harus Dilakukan

“Saya kira di dunia ini enggak ada yang 100 persen. Contoh vaksin BCG, DPT, tapi si anak misalnya tetap saja kena TBC? Kenapa? Ya, karena misalnya tiap malam dikelonin bapaknya yang terpapar,” tegasnya.

“Tapi, si anak jika tertular tidak jadi TBC berat. Begitu juga kalau sudah diimunisasi lalu terkena Covid-19, bisa saja tertular tapi tak berat. Karena dia tak imun ya, dan kita enggak tahu apakah virusnya ganas,” jawab Prof Sri.

Baca juga: 5 Alasan BPOM Akhirnya Terbitkan Izin Penggunaan Vaksin Sinovac

Selain itu, Prof Sri mengingatkan agar masyarakat tetap memakai masker usai divaksin. Pasalnya, seseorang baru bisa mengembangkan antibodi 14 hari hingga 1 bulan setelah divaksin, atau baru kebal dalam jangka waktu tersebut setelah divaksin. Apalagi belum semua populasi divaksin atau herd immunity (kekebalan kawanan) belum terpenuhi.

“Setelah kita disuntik 2 kali, enggak langsung tinggi antibodinya. Paling tinggi 14 hari sampai 1 bulan baru maksimal antibodi. Maka masker tak boleh lepas. Apalagi belum seluruhnya divaksin. Malah ada yang menolak segala. Maka belum aman. Makanya ayo bersama-sama kita divaksin, kebalkan imun kita,” ungkapnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani


Close Ads