src="https://cdn.geozo.com/mfel17291/ilv/0mp/30y8qh678vuq687/pky52d4.go">

Tangani Hepatitis Akut Misterius, Pemerintah Belum Butuh Satgas Khusus

RI Gandeng AS dan Inggris
10 Mei 2022, 10:28:06 WIB

Untuk Pencegahan, Anak Harus Dibiasakan Rajin Mencuci Tangan

JawaPos.com – Kasus hepatitis akut misterius menjadi momok saat anak mulai masuk sekolah. Sebab, penyakit yang belum diketahui penyebabnya tersebut banyak diderita oleh anak. Kewaspadaan untuk menghadapi serangan penyakit itu pun terus digaungkan.

Kendati demikian, risiko untuk menjadi wabah besar dinilai masih jauh.

Menurut Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane, risiko meluasnya penyakit yang belum diketahui etiologinya tersebut masih tak terlihat. Selain itu, persebarannya masih sporadis, kecuali di Inggris. Di sebelas negara Eropa lainnya, meski ada letupan-letupan (outbreak) kecil, tidak menyebar dengan cepat. ”Seperti biasa, waspada boleh, tapi jangan panik,” tuturnya.

Karena itu, Masdalina menilai belum dibutuhkan satuan tugas (satgas) khusus untuk menghadapi ancaman penyakit ini. Disinggung soal upaya prevensi, Masdalina belum memberikan imbauan-imbauan khusus. Pasalnya, hingga kini belum diketahui penyebab pasti dari hepatitis akut misterius ini. Sehingga prevensinya pun dinilai belum bisa akurat. ”Kita tunggu hasil PE (penyelidikan epidemiologi, Red) dulu saja ya. Kalau sudah didapatkan hasilnya, baru akan keluar kebijakan kesehatan masyarakat yang harus dilakukan,” paparnya.

Namun, orang tua bisa mengantisipasi dengan memperhatikan kondisi anak saat sakit. Terutama anak berusia di bawah 16 tahun. Bila anak menderita diare, mual, muntah, dan lemas, segera bawa ke rumah sakit. ”Jangan nunggu kuning yang menandakan infeksi di hati cukup besar,” tegasnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kemarin melaporkan sejumlah perkembangan di bidang kesehatan kepada Presiden Joko Widodo dalam sidang kabinet paripurna. Salah satunya terkait dengan hepatitis akut misterius. Budi menjelaskan bahwa jajarannya telah melakukan penelitian serta berkoordinasi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) dan Inggris.

Dalam diskusi tersebut disimpulkan, penyebab penyakit hepatitis akut belum dapat dipastikan. ”Kemungkinan besar adalah adenovirus 41, tapi ada juga banyak kasus yang tidak ada adenovirus 41 ini,” katanya.

Budi menegaskan, saat ini Indonesia tengah melakukan penelitian bersama Inggris dan AS. Untuk mencegah bertambahnya kasus hepatitis akut, dia mendorong masyarakat rajin mencuci tangan. Sebab, penularan virus tersebut berasal dari asupan makanan lewat mulut. Selain itu, apabila muncul gejala lain seperti demam, Budi menganjurkan untuk segera dilakukan pemeriksaan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) dan serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) di rumah sakit. ”Kalau sudah naik agak tinggi, sebaiknya di-refer ke fasilitas kesehatan terdekat,” imbuhnya.

Pada kesempatan lain, Juru Bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menyatakan, pemerintah belum membentuk satgas khusus untuk mengatasi hepatitis akut ini. ”Dengan jumlah perkembangan kasus sekarang, belum diperlukan kebijakan khusus terkait PTM (pembelajaran tatap muka, Red),” ujarnya.

Menurut Nadia, sejauh ini dinas kesehatan akan melakukan verifikasi secara berjenjang. Rumah Sakit Sulianti Saroso Jakarta ditunjuk untuk meneliti sampel yang diambil dari pasien. ”Menjaga kehigienisan dan sanitasi personal itu penting,” ingat Nadia.

Itu dilakukan juga ketika anak mulai masuk sekolah. Antisipasi tak hanya datang dari pemerintah. Nadia berharap masyarakat juga sadar untuk melakukan pencegahan. ”Hepatitis ini sebenarnya penyakit lama yang menular juga lewat makanan,” ungkapnya.

Unit Kerja Koordinasi Infeksi Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Nina Dwi Putri SpA(K) memberikan saran bagi orang tua untuk menghindari penyakit infeksi pada anak. Yang harus dilakukan pertama ialah pastikan status vaksinasinya. Pada anak, terdapat vaksinasi rutin yang harus diberikan. ”Vaksinasi merupakan cara paling aman untuk melindungi anak dari penyakit infeksi,” tuturnya.

Nina juga menyarankan agar anak berada di rumah saat sakit. Itu bertujuan untuk menghindari persebaran penyakit. Selain itu, pemulihan pada si sakit diharapkan akan lebih cepat dengan beristirahat di rumah. Nina juga tidak menganjurkan membawa anak ke tempat yang terlalu ramai.

”Salah satu cara sederhana namun penting untuk mencegah persebaran infeksi adalah mencuci tangan,” katanya. Karena itu, orang tua bisa mengajarkan cuci tangan yang benar kepada anak. Selain itu, kebersihan lingkungan perlu digiatkan. ”Jangan panik. Apa pun infeksinya, yang penting selalu melakukan pencegahan,” imbuhnya.

Jatim-Jateng Nol Kasus

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim memastikan, hingga kemarin belum ada kejadian hepatitis akut. Berdasar hasil pemeriksaan terakhir, seluruh kasus berkategori syndrome jaundice atau penyakit kuning. Penentuan kasus hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya kini dilakukan terpusat oleh Kemenkes. Itu sesuai surat yang dikeluarkan Dirjen P2P Kemenkes Nomor PM.03.02/C/2537/2022 pada 7 Mei 2022.

Surat berisi satu paragraf itu mengimbau agar kasus hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya tersebut diumumkan satu pintu oleh Kementerian Kesehatan. ”Upaya ini bertujuan agar tak terjadi kepanikan di masyarakat,’’ ucap Kepala Dinkes Jatim Erwin Astha Triyono kemarin. Sebab, untuk menentukan kepastian hepatitis akut dibutuhkan uji dan verifikasi lebih lanjut. Termasuk kasus bocah meninggal di Tulungagung pekan lalu yang kini sedang diteliti oleh pemerintah pusat.

Sejak Januari hingga kemarin, Jatim mencatat ada 115 kejadian penyakit kuning. Dari data itu, 114 sudah diklarifikasi oleh tim sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR). Satu kasus lagi, yakni di wilayah Tulungagung, saat ini masih menunggu penelusuran lebih lanjut.

Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jatim Hendro Soelistijono mengatakan, rumah sakit di Jatim akan memperketat proses skrining. Utamanya terkait kasus temuan syndrome jaundice. ”Proses pemeriksaan laboratorium akan diperketat,’’ katanya. Jika temuannya mengarah pada hepatitis umum, akan langsung diberikan penanganan dan obat. Jika gejalanya memiliki kesamaan namun hasil laboratorium belum diketahui, akan dilaporkan ke dinkes daerah dan Jatim.

Sementara itu, Jawa Tengah juga nol kasus hepatitis akut misterius. ”Semoga jangan sampai ada di Jateng ya,” ujar Kepala Dinkes Jateng Yunita Dyah Suminar kepada Jawa Pos Radar Semarang. Pihaknya telah memberikan peringatan waspada dan mengedukasi masyarakat. Termasuk melakukan sosialisasi ke seluruh fasilitas kesehatan. Khususnya bagi pasien anak agar segera dikenali gejala dan tanda-tandanya sebagai bentuk kewaspadaan.

Edukasi dan sosialisasi juga dilakukan baik kepada masyarakat maupun institusi pemerintah. Melalui surat edaran kepada seluruh pemerintah kabupaten atau kota. Juga memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan pencegahan. ”Pokoknya harus segera melapor bila menemukan kasus yang diduga atau suspect hepatitis akut ini,” imbuh Yunita.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : lyn/mia/lum/elo/taf/ida c9/c6/oni

Saksikan video menarik berikut ini: