alexametrics

Bahayanya Nokturia dan Nokturnal Enuresis yang Dibiarkan

Dapat Pengaruhi Kualitas Hidup
10 Januari 2021, 13:48:48 WIB

Kebiasaan buang air kecil atau pipis pada malam hari ketika tidur sering kali dianggap sepele. Padahal, itu bisa jadi gejala nokturia dan harus segera memeriksakan diri ke dokter. Apa sih nokturia? Seberapa bahayanya ya? Simak penuturan berikut.

NOKTURIA merupakan gangguan mengontrol pengeluaran urine dalam periode tidur yang dialami orang dewasa. Terbangun untuk berkemih dan setelahnya diikuti lagi keinginan rasa untuk tidur. Aktivitas tersebut jelas memengaruhi kualitas tidur mereka yang mengidapnya.

Studi faktor risiko nokturia di Indonesia yang melibatkan 1.555 subjek menunjukkan prevalensi 61,4 persen. Dari total angka tersebut, 61,4 persen dialami laki-laki dan 38,6 persen terjadi pada perempuan. Fakta lainnya, kasus nokturia terbanyak dialami kelompok umur 55–65 tahun.

Ketua Ikatan Ahli Urologi Indonesia Dr dr Nur Rasyid SpU (K) menyatakan, jika dibiarkan dalam jangka panjang, nokturia dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang ke depannya. ”Kalau tidak diatasi dengan tepat, bisa mengakibatkan masalah sosial, bahkan ekonomi penderitanya,” ungkapnya.

Penyebab nuktoria sangat beragam serta memiliki perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, laki-laki mengalami obstruksi infravesika seperti penyakit prostat. Selain itu, penyebabnya adalah memiliki riwayat penyakit stroke atau obesitas sentral. Juga, mengalami kebocoran protein di ginjal, infeksi, dan rendahnya kadar hormon testosteron.

Nokturia bakal semakin parah seiring dengan bertambahnya usia dan adanya kandung kemih yang overaktif (OAB). Dia mengimbau dengan tegas agar orang dewasa tidak lagi menganggap wajar kondisi tersebut. Sebab, pada laki-laki, nokturia yang didiamkan akan berdampak pada disfungsi ereksi dan gangguan pembuluh darah sistemik. Angka kematian yang disebabkan nokturia berat mencapai 1,93 persen. Bahkan, grafik itu bisa mengalami lonjakan yang signifikan.

Karena itu, diagnosis dan tata laksana nuktoria sangat perlu penanganan yang multidisiplin. Yaitu, pemeriksaan fisik dan penunjang seperti fungsi ginjal, elektrolit darah, gula darah, dan analisis urine. ”Penyebab nokturia itu banyak sehingga juga perlu terapi terhadap penyakit yang menjadi penyebab,” ujar Nur.

Sementara itu, ketidakmampuan mengontrol pengeluaran urine selama waktu tidur, terutama pada anak usia lebih dari 5 tahun, disebut nokturnal enuresis. Umumnya, memang anak butuh waktu sekitar empat tahun untuk mulai bisa mengontrol berkemih. ”Kalau anaknya terbangun (dari tidur malam, Red), kemudian pipis, itu nokturia. Tapi, kalau ngompol saat tidur, masuknya enuresis,” jelas Dr dr Irfan Wahyudi SpU(K).

Enuresis terbagi menjadi dua. Pertama, enuresis primer atau kebiasaan mengompol sejak bayi hingga berusia lebih dari 5 tahun. Namun, kebiasaan tersebut bisa sempat terhenti selama enam bulan sebelum si kecil kembali mengompol. Nah, itulah yang disebut enuresis sekunder.

Sama dengan orang dewasa, penyebab si kecil terkena enuresis beragam. Mulai gangguan struktur saluran urine hingga kondisi mental yang mengakibatkan anak stres. ”Pemicunya, anak stres karena kematian kerabat, adaptasi ke lingkungan baru, atau pertengkaran dalam keluarga,” papar kepala Departemen Urologi FKUI-RSCM tersebut. Penyebab lain, memiliki kadar hormon arginin vasopresin yang rendah pada malam hari.

Baca Juga: Dampingi Keluarga Kru dan Penumpang Sriwijaya, Ini Pernyataan Boeing

Karena itu, para orang tua tidak boleh menyepelekan anak yang masih mengompol pada usia 5 tahun. Sebab, enuresis berpengaruh terhadap tumbuh kembang si kecil jika dibiarkan. Namun, bila si kecil mengalami enuresis, Irfan menganjurkan untuk segera diberi terapi. Yaitu, menggunakan obat desmopresin dan terapi alarm. ”Jadi, ketika celana anak basah karena ngompol, alarm bunyi. Anak akan bangun pergi ke kamar mandi,” terangnya.

Terapi dianggap berhasil jika anak tidak lagi mengompol selama sebulan tanpa pemakaian alarm. Menurut dia, upaya itu akan membuahkan hasil yang baik setelah tiga sampai empat bulan terapi.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : shf/c14/tia


Close Ads