alexametrics

Dekan FKUI: Penyebaran HIV AIDS Sudah Merata di Tiap Profesi

9 September 2019, 15:24:41 WIB

JawaPos.com – Penyebaran virus HIV AIDS dari masa ke masa semakin tidak mengenal profesi dan tatanan sosial. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Prof. Dr.dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB menjelaskan penyakit HIV AIDS saat ini hampir rata menyasar profesi.

Mulai dari ibu rumah tangga yang tidak gonti-ganti pasangan, sampai suami yang tukang selingkuh dan menggunakan jasa wanita pekerja seks komersial bisa tertular HIV AIDS. “Dari sudut kesehatan gonta-ganti pasangan berisiko penyakit, kelompok penyakit akibat gonta-ganti pasangan ini dimasukan sebagai sexually transmitted disease (STD),” ujar Ari, Senin (9/9).

Untuk para perempuan yang gonta-ganti pasangan, selain penyakit STD, mereka juga berisiko untuk terkena kanker mulut rahim, sedangkan laki-laki bisa terkena kanker prostat di kemudian hari.

Ari menjelaskan bahwa secara fisik, tidak dapat dibedakan siapa yang di dalam tubuhnya mengandung virus yang sangat berbahaya tersebut. “Oleh karena itu saat kita berhubungan seks dengan seseorang yang bukan istri atau suami, risiko untuk mengalami penyakit infeksi yang berbahaya dan mematikan tentu jauh lebih besar,” katanya.

 

Fase Tubuh Tertular HIV AIDS

 

Ari menjelaskan, fase seseorang terserang HIV AIDS tidak terjadi secara serta merta. Mereka biasanya akan melalui fase tanpa keluhan yang berlangsung selama 5-10 tahun, sampai akhirnya muncul gejala.

“Pasien menyampaikan setelah menikah 5 tahun belakangan ini mereka tidak pernah berhubungan seks dengan orang lain kecuali kepada istri atau suami sahnya saja,” jelasnya.

Gejala klinis akibat virus baru muncul pada penderita jika daya tahan tubuhnya sudah menurun. Berbagai infeksi oportunistik akan muncul seperti sariawan karena jamur kandida, TBC paru, infeksi otak, diare kronik karena infeksi jamur atau parasit atau timbul bercak hitam dikulit.

Selain itu, pasien HIV yang sudah masuk tahap lanjut juga mengalami penurunan berat badan. Hasil pemeriksaan laboratorium, pasien yang positif terinfeksi HIV juga mengalami penurunan leukosit kurang dari 5.000 dengan limfosit kurang dari 1.000.

 

Pengobatan dan Pencegahan

 

Sampai saat ini, vaksin HIV AIDS belum ditemukan. Walau demikian, obat-obat anti retroviral (ARV) yang ada saat ini dinilai sudah mampu menekan jumlah virus. Bukti klinis membuktikan bahwa pengobatan dengan ARV bisa menekan penyebaran virus sampai lebih 90 persen.

Di Indonesia ARV saat ini masih gratis dengan akses mudah untuk mendapatkannya. Penggunaan ARV di Indonesia sendiri sampai saat ini terbilang masih rendah.

“Stop gonta-ganti pasangan, stop berselingkuh yang dibumbui seks bebas. Karena semakin dini pasien HIV diberikan obat anti virus (ARV) semakin cepat menurunkan jumlah virus dan mengurangi potensi penularan dan tentu pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV tersebut,” tutupnya.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Close Ads