JawaPos Radar

Sudah 3 Ribu Bayi Lahir Melalui Program Bayi Tabung

Fertility Science Week di Central Park

09/09/2018, 05:30 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
Sudah 3 Ribu Bayi Lahir Melalui Program Bayi Tabung
dr Ivan R. Sini SpOG memberikan gambaran program bayi tabung dalam Fertility Science Week di atrium Central Park yang berlangsung hingga Minggu 9 September (RAKA DENNY/JAWA POS)
Share this image

JawaPos.com - Masyarakat Indonesia belum cukup aware terhadap kesehatan kesuburan dan teknologi bayi tabung. Masih banyak orang yang menganggap tabu bicara soal kesuburan. Pasangan yang sudah lama menikah belum dikaruniai keturunan, tak jarang mengalami berbagai problem. Tuntutan keluarga dan orang di sekitar, masalah dengan pasangan, belum lagi tekanan personal. Anda tidak sendiri. Menurut data, 1 dari 10 pasangan di dunia mengalami masalah infertilitas.

Semua bisa dicari solusinya. Salah satunya teknologi bayi tabung yang makin canggih. Dokter Ivan R. Sini SpOG dari Morula IVF menerangkan, bayi tabung pertama di dunia lahir pada 1978, di Morula IVF Indonesia pada 1998. ”Bayi tabung yang pertama lahir di Indonesia kini berusia 20 tahun dan sehat,” ujarnya dalam Fertility Science Week di atrium Central Park, Jakarta.

Segala pertanyaan tentang kesehatan kesuburan dan program kehamilan bisa terjawab dalam acara yang berlangsung hingga Minggu (9/9) tersebut. Di antaranya, gaya hidup yang mengganggu kesuburan, aspek psikososial, kapan perlu program bayi tabung, ilmu dan teknologi bayi tabung, sudut pandang masyarakat dan agaman, hingga persiapan finansial.

Sudah 3 Ribu Bayi Lahir Melalui Program Bayi Tabung
gambaran program bayi tabung dalam Fertility Science Week di atrium Central Park yang berlangsung hingga Minggu 9 September (RAKA DENNY/JAWA POS)

Ada sederet stigma tentang bayi tabung yang tidak tepat. Dokter Ivan menguraikan, bayi tabung seringkali jadi opsi terakhir setelah menghabiskan waktu. ”Kalau memang ada masalah seperti cairan sperma tidak mengandung sel spermatozoa (azoospermia) atau saluran tuba buntu, sesegera mungkin bisa diketahui,” paparnya.

Stigma berikutnya, tingkat keberhasilan program in vitro fertilization (IVF) rendah, belum lagi biayanya yang mahal. Menurut dr Ivan, waktu adalah hal krusial bagi perempuan. Program bayi tabung pada ibu usia di bawah 35 tahun tingkat keberhasilannya lebih tinggi dibanding usia di atas 40 tahun. Soal biaya, berkisar Rp 80-100 juta. ”Semakin ditunda-tunda dengan mencoba banyak cara lainnya juga menghabiskan dana yang tidak sedikit,” urainya.

Kualitas klinik bayi tabung di Indonesia sudah terakreditasi dari Australia dan New Zealand. ”Saat ini sudah lahir bayi ke-3.000 dari program IVF,” ujar dokter yang juga CEO Morula IVF Indonesia tersebut.

Prof Soegiharto menambahkan, yang membedakan hamil alami dengan proses kehamilan bayi tabung adalah karena adanya halangan pertemuan sel telur dan sel sperma. ”Tapi, setelah embrio ditransfer kepada ibu, setelahnya sama dengan hamil pada umumnya,” paparnya.

Caca Tengker, adik Nagita Slavina, turut berbagi pengalaman menjalani program IVF ini. Meski ketika itu baru 7 bulan menikah, dirinya dan Barry, suami mengambil keputusan untuk IVF. ”Kami sudah siap punya anak. Dan, umur sel telurnggak akan makin muda,” ucap Caca yang baru melahirkan putrinya, akhir Agustus. 

(nor)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up