alexametrics

Yuk! Bantu si Kecil Mengatasi Kendala Bahasa dan Komunikasi

8 Agustus 2020, 06:06:58 WIB

Diajak mengobrol, sudah. Dibacakan buku, sudah. Sampai-sampai saran mengusapkan batu cincin di lidah si kecil hingga memukulkan daun ke bibir anak juga dilakukan. Tapiiiii, kata-kata anak masih terbatas pada mama, papa, atau mamam. Duh, gimana ini?

KEMAMPUAN berbicara setiap anak memang berbeda-beda. Di situs resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), si kecil mulai mampu mengucapkan kata sederhana –bukan babbling– pada umur 9–12 bulan. Meski begitu, proses anak belajar bicara dimulai jauh sebelum periode itu.

Play therapist Irene Phiten menjelaskan, anak ”menyerap” kata-kata dari orang terdekatnya sejak lahir. Kemampuan mereka berkomunikasi diawali dengan memahami bahasa. ”Sesederhana memandang atau mengamati orang yang berbicara,” kata Irene dalam webinar Membantu Anak yang Kesulitan dalam Bahasa dan Komunikasi.

Seiring berkembangnya sistem saraf otak, kemampuan anak untuk memproses bahasa berkembang. Anak biasanya mampu mengucap kata dan kalimat sederhana sebelum usia 24 bulan. ”Kemampuan otak dalam bahasa ini jalan terus hingga usia remaja, bahkan dewasa,” lanjutnya.

Master trainer BrainFit Indonesia itu menjelaskan, orang tua sering melalaikan kemampuan bahasa anak. Sebab, ia tidak kentara bila dibandingkan dengan pertumbuhan fisik atau kemampuan motorik yang bisa dengan jelas diamati. ”Banyak yang baru sadar ketika anak bertemu teman seumurannya. Kok anakku tidak secerewet yang lain, ya?” imbuhnya.

Pada kondisi begitu, orang tua perlu bergerak cepat mengoreksi. ”Sebaiknya sebelum anak mulai masuk lingkungan sosialisasi atau sekolah,” ucap play therapist lulusan Big Toes Little Toes Inggris itu.

Sebab, anak yang memiliki gangguan komunikasi –baik masalah dalam menyimak maupun bertutur– amat mungkin dikucilkan. Alhasil, kondisi psikis mereka terganggu. Pencapaian akademis pun ikut terdampak. Di sisi lain, anak pun terbebani secara psikologis. Karena dianggap lemot, mereka pun menjadi penyendiri.

Tip dari Irene, tahap intervensi bisa dimulai dari rumah. ”Ciptakan lingkungan rumah yang nyaman untuk mengobrol dan berdiskusi,” saran dia. Hasil intervensi memang akan lebih baik jika tahap itu dilakukan saat anak masih kecil. ”Perlu diingat, otak manusia akan terus berkembang hingga mereka mencapai usia dewasa. Stimulasi bisa terus diberikan,” tegasnya.

RAGAM PROBLEM BAHASA

  • Sulit menemukan kata yang tepat ketika berbicara. Ucapan sering terpotong anu atau mmm.
  • Kosakata terbatas.
  • Saat menulis, struktur kalimat buruk dan sulit dipahami.
  • Menggunakan kata di konteks yang salah dalam kalimat dan terjadi berulang.
  • Sulit memahami kata dan harus dibantu gambar.
  • Tidak mampu menyusun kalimat majemuk atau panjang.
  • Sulit menceritakan kembali (retelling).
  • Sulit menyimak paparan lisan.

TALK, PLAY, READ

Talk, talk, talk! Meski anak belum mampu berbicara, orang tua bisa mengobrol atau berbagi cerita. Paparan ini akan menambah kosakata anak sehingga membantu mereka ketika belajar bicara.

Play, play, play! Yuk, luangkan waktu bermain dengan anak. Sebab, lewat permainan, anak bakal mendapat pengalaman komunikasi yang lengkap. Mulai ekspresi hingga mengenal perasaan.

Read, read, read! Membaca akan memperkenalkan kosakata yang tidak lazim dipakai di bahasa tutur. Untuk anak yang belum mampu membaca, ajak mereka menyimak bersama dongeng dari buku. Selain itu, sediakan beragam bacaan di rumah. Pengalaman membaca yang menyenangkan bakal membuat anak menikmati buku dan terpacu untuk belajar.

YUK, CARI TAHU!

Dalam memproses informasi, ada tiga tahapan yang berlangsung. Kira-kira di tahap mana sih masalah si kecil? Apa yang bisa kita lakukan?

RECEPTIVE LANGUAGE

  • Berkaitan dengan indra anak (pendengaran maupun penglihatan) dalam menerima informasi.
  • Ucapkan kalimat dengan perlahan dan jelas.
  • Ulangi instruksi.
  • Cek pemahaman anak dengan menanyakan lagi (misalnya, ’’Tadi Ibu minta diambilkan apa saja dari dapur?’’).
  • Cek kondisi sekitar: apakah ada suara yang mengganggu? Apakah ruangan terlalu bising?
  • Gunakan visual cues.

PROCESSING ISSUE

  • Berkaitan dengan kemampuan anak memproses informasi. Biasanya, masalah ditandai dengan respons anak yang lambat atau salah.
  • Kerjakan satu kegiatan di satu waktu, tidak diselingi aktivitas lain.
  • Menggunakan permainan. Misalnya, mengurutkan lagi gambar acak atau puzzle untuk mengecek konsentrasi anak.

EXPRESSIVE LANGUAGE

  • Berkaitan dengan merespons perintah, menanggapi pertanyaan, atau kemampuan anak dalam berekspresi lewat bicara maupun tulisan.
  • Saat anak berbicara, beri perhatian penuh (kontak mata, ekspresi orang tua yang tidak menghakimi, dan anak tidak diburu-buru).
  • Kenalkan anak pada cara berekspresi nonverbal (menggambar/melukis, menari, olahraga, dll).
  • Jika bermasalah dalam menulis, biasakan anak menulis diari atau catatan lain yang tidak diburu tenggat.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : fam/c11/jan




Close Ads