Hepatitis Akut Misterius, IDAI Belum Beri Rekomendasi Penundaan PTM

Kemenkes Masih Investigasi Penyebabnya
8 Mei 2022, 11:02:32 WIB

JawaPos.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) segera berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terkait penyakit hepatitis akut yang penyebabnya belum diketahui. Terlebih, pembelajaran tatap muka (PTM) segera dilaksanakan dalam waktu dekat.

”Yang jelas, kita tetap terapkan prokes,” tegas Juru Bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi. Secara umum, penyakit hepatitis ditularkan melalui saluran pencernaan. Karena itu, anak-anak harus rajin mencuci tangan dengan sabun.

Kemudian, memastikan makanan atau minuman yang dikonsumsi matang, hingga tidak menggunakan alat-alat makan bersama dengan orang lain. Untuk menghindari penularan melalui saluran pernapasan, anak-anak tetap harus menggunakan masker, menjaga jarak, dan mengurangi mobilitas.

Sejauh ini, menurut Nadia, suspect hepatitis akut belum ada karena masih harus dilakukan pemeriksaan lebih dalam dari kasus sebelumnya. Selain itu, belum ada pertambahan kasus baru yang suspect dan probable.

Pada bagian lain, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belum memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk menunda PTM dalam upaya menghadapi persebaran penyakit misterius itu. Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastro-Hepatologi IDAI Muzal Kadim mengatakan, rekomendasi belum diberikan lantaran dunia kesehatan juga masih menginvestigasi etiologi hepatitis akut yang telah menyebar ke sejumlah negara tersebut.

Selain itu, pemerintah belum bisa memastikan apakah hepatitis akut tersebut sudah benar-benar masuk ke Indonesia atau belum. Karena itu, tiga anak yang meninggal karena diduga terserang penyakit tersebut masih dalam kategori pending classification. ”Sampai saat ini belum ada putusan IDAI untuk menyarankan PTM. Kami masih investigasi. Jadi, kami belum memutuskan itu,” ujarnya.

Meski begitu, ada kemungkinan perubahan rekomendasi untuk penyelenggaraan PTM 100 persen. Hal itu bergantung pada perkembangan penyakit tersebut apakah semakin buruk seperti Covid-19 atau tidak. Saat ini IDAI telah memberikan rekomendasi yang menjadi protokol bagi rumah sakit, puskesmas, faskes pertama, dan dokter anak di seluruh Indonesia terkait penanganan penyakit hepatitis akut misterius tersebut. Rekomendasi itu terkait tata laksana dan skrining. Misalnya, bila ditemukan kasus anak dengan ciri-ciri kuning, demam, sakit perut, dan ada peningkatan enzim transaminase lebih dari 500 unit per liter, lalu pemeriksaan hepatitis A, B, C, D, dan E negatif, bisa dimasukkan dalam probable. Sebab, belum diketahui penyebabnya apa. ”Jangan sampai kita tidak siap sejak awal,” tegasnya.

Dalam tata laksana di rumah sakit, lanjut dia, anak yang masuk dalam kategori probable akan dirawat di ruang isolasi. Tujuannya, mencegah penularan kepada orang lain. Selain itu, dilakukan tirah baring (bed rest) bagi anak yang telah memasuki fase akut.

Selanjutnya, dokter akan memonitor perjalanan klinis dan pemeriksaan laboratorium, terutama untuk PT/INR dan albumin. Karena hingga saat ini hepatitis akut pada anak belum diketahui penyebab dan obatnya, anak akan mendapatkan pengobatan suportif.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : lum/mia/c6/oni

Saksikan video menarik berikut ini: