alexametrics

Terapi Hiperbarik Didominasi Pasien Diabetes

7 September 2019, 20:07:11 WIB

JawaPos.com – Luka kronis akibat diabetes melitus merupakan keluhan terbanyak pasien yang menjalani terapi hiperbarik di Lembaga Kesehatan Laut (Lakesla) TNI-AL Surabaya. Menurut Mayor Laut dr Titut Harnanik MKes, persentasenya sebanyak 70 persen.

’’Yang lainnya adalah penderita stroke, infeksi tulang, keracunan gas, dan lain-lain. Tiap hari, rata-rata 60 pasien berobat,’’ ucap dokter yang bertugas di Lakesla tersebut.

Salah seorang pasien itu adalah Andarwati. Warga Tegalsari tersebut rutin menjalani terapi hiperbarik dalam setahun terakhir. Dia didiagnosis menderita diabetes sejak 1,5 tahun lalu. Awalnya, dia harus menjalani terapi tersebut seminggu sekali. Namun, sebulan terakhir, dia hanya menjalani terapi sebulan sekali. ’’Alhamdulillah, karena sudah semakin membaik, dosis obatnya juga sudah turun,” katanya.

Titut membenarkan pernyataan tersebut. Menurut dia, banyak pasien diabetes yang membaik setelah menjalani terapi hiperbarik. ’’Bila ada luka terbuka, setelah menjalani terapi ini, biasanya luka menutup perlahan-lahan,’’ paparnya. Oksigen murni yang diberikan saat terapi itu memiliki kadar lebih tinggi daripada biasanya. ’’Ini yang membantu mempercepat regenerasi sel,’’ lanjutnya.

JUGA LIHAT KONDISI PASIEN: Operator memantau tekanan di dalam chamber melalui layar. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Selama berada di chamber, kata Titut, pasien akan diajari tata cara mengatasi tekanan udara yang tinggi. Termasuk mengatasi bila pasien merasa tidak nyaman selama berada di sana. ’’Ini bisa diatasi dengan menelan ludah. Pasien juga diberi permen dan air minum,” ucapnya. Terapi berlangsung selama dua jam. Jika sudah hampir selesai, petugas akan sedikit demi sedikit menurunkan tekanan.

Titut mengamati perkembangan terapi hiperbarik selama beberapa tahun terakhir. Banyak penyakit atau keluhan pasien lainnya yang juga bisa diatasi dengan terapi tersebut. Misalnya, vertigo, migrain, anemia, bahkan autis. Keluhan bisa berkurang karena pasien rutin menjalani terapi tersebut. Selain itu, Titut sering menemukan orang yang hanya ingin menjaga kebugaran dan kecantikan dengan terapi hiperbarik.

’’Flek-flek di wajah pasien saya bisa berkurang setelah rutin terapi. Ya itu tadi karena ada efek regenerasi sel,” paparnya. (nas/c7/ai)

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads