alexametrics

Covid-19 Tak Kunjung Sembuh, Ini Cara Mengatasinya Menurut Ahli

7 Juni 2021, 17:41:11 WIB

JawaPos.com – Sebagian pasien Covid-19 bisa mengalami efek jangka panjang. Sudah negatif sesuai laboratorium, namun ternyata penyintas masih merasakan efek jangka panjang.

Orang dengan gejala ringan mungkin tidak memerlukan pengobatan, melainkan hanya validasi dan informasi.
Orang lain dengan gejala yang lebih parah atau persisten membutuhkan lebih banyak. Dengan menawarkan perawatan klinis yang didukung oleh tim spesialis yang terkoordinasi. Long Covid perlu penanganan multidisiplin memastikan pasien menerima perawatan terbaik.

Lalu apa yang menyebabkan long Covid? Para ahli tentu masih meneliti hasil validnya.

“Kami belum tahu mengapa beberapa orang mengalami Covid yang lama, sementara yang lain pulih beberapa minggu setelah terinfeksi,” kata para peneliti seperti Kepala Laboratorium, Divisi Imunologi, Institut Walter dan Eliza Hall Vanessa Bryant, Associate Professor, Psikiatri, The University of Melbourne Alex Holmes, dan Associate Professor Fisiologi, The University of Melbourne Louis Irving.

Salah satu petunjuk yang mendukung teori ini adalah bahwa beberapa orang yang menderita Covid yang lama mengatakan gejala mereka membaik secara nyata setelah mendapatkan vaksin Covid-19. Ini sangat menunjukkan bahwa beragam gejala Covid berkepanjangan secara langsung terkait kembali dengan sistem kekebalan tubuh kita.

“Ada kemungkinan vaksin dapat membantu dengan mengarahkan sistem kekebalan kembali ke jalurnya, dengan secara langsung mengaktifkan sel-sel kekebalan tertentu seperti sel T (yang membantu merangsang produksi antibodi dan membunuh sel yang terinfeksi virus),” kata peneliti seperti dilansir dari Science Alert, Senin (7/6).

Teori lain adalah bahwa, di dalam tubuh orang dengan Covid yang lama, ada reservoir virus kecil dan persisten yang tersembunyi dari deteksi oleh tes diagnostik, atau sisa fragmen virus kecil yang belum ditangani oleh tubuh. Reservoir ini tidak menular tetapi dapat secara konsisten mengaktifkan sistem kekebalan tubuh. Vaksin mungkin membantu mengarahkan sistem kekebalan ke tempat yang tepat untuk membersihkan sisa virus.

“Intinya adalah kita masih perlu penelitian lebih lanjut, karena masih dalam tahap awal. Belum ada obatnya, tetapi kami dapat mendukung dan mengelola gejala penderita dan kami mendorong semua orang untuk mendapatkan vaksin Covid-19,” katanya.

Dalam penelitian yang sedang berlangsung tentang kekebalan Covid-18 di Institut Walter dan Eliza Hall (WEHI), peneliti menemukan 34 persen peserta mengalami Covid yang lama hingga 45 minggu setelah diagnosis. Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan 10 persen orang bisa terkena Long Covid, sementara sebuah studi dari Inggris menemukan 30 persen. Proporsi orang yang terkena dampak kemungkinan akan berbeda antar negara.

Tatalaksana Penanganan Long Covid

Ternyata sejumlah klinik dan fasilitas menggunakan pendekatan holistik untuk mendukung pemulihan pasien. Semua tim dokter dilibatkan sesuai gejalanya.

Mereka termasuk tim spesialis seperti dokter pernapasan, ahli reumatologi, ahli imunologi, ahli fisioterapi, dan dalam beberapa kasus, psikolog dan psikiater. Program fisioterapi bertingkat seringkali berguna.

“Bagi kebanyakan orang, hasilnya bagus. Setelah sembilan bulan, setengah dari pasien kami telah kembali ke aktivitas normal dan telah dipulangkan dari klinik,” katanya.

Namun, ada sekelompok pasien yang perbaikannya lebih lambat. Mereka memiliki keterbatasan kemampuan untuk bekerja, berolahraga dan bersosialisasi.

“Kembalinya mereka bekerja dan aktivitas lainnya perlu dikelola dengan hati-hati. Sangat penting bahwa gejala yang menetap ini perlu mendapatkan dukungan dari keluarga, bos, dan tim medis multidisiplin,” kata peneliti.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads