alexametrics

Saran Psikolog Bagi Pasien Kanker Agar Tak Sedih dan Putus Asa

7 April 2021, 12:17:02 WIB

JawaPos.com – Saat seseorang divonis kanker seolah merasa dunianya akan berakhir. Memang tren penyakit tidak menular termasuk kanker saat ini semakin besar risikonya seiring dengan budaya gaya hidup masyarakat yang kurang sehat seperti kurang beraktivitas fisik, merokok, diet tidak seimbang dan seterusnya.

Mengutip GLOBOCAN angka kejadian kanker di Indonesia terus meningkat, baik dari angka kasus baru maupun kematian akibat kanker. Jika pada 2018 angka kasus baru tercatat 348.809, maka di tahun 2020 menjadi 396.914. Angka kematian akibat kanker pada 2018 sebesar 207.210 juga meningkat menjadi 234.511 kasus. Baik angka kasus baru maupun angka kematian akibat kanker meningkat sekitar 8,8 persen hanya dalam waktu 2 tahun.

Dampak kanker bukan hanya terhadap pasien, tetapi juga kepada keluarga, seperti anak-anak kehilangan kesempatan tumbuh didampingi ibu dan atau terkendala mendapat ASI dan pengasuhan optimal dan berkualitas, serta kesulitan finansial akibat pencari nafkah (ayah atau ibu) sakit atau meninggal. Secara lebih luas penyakit kanker berdampak terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat dan negara.

Organisasi pasien kanker Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC) menjelaskan kanker memang sudah menjadi masalah nasional. Perlu upaya bersama untuk membantu pasien kanker agar tidak merasa sendirian dalam menghadapi penyakitnya. Selain itu, perlu upaya bersama pula untuk membuka kesadaran masyarakat agar angka kasus dan kematian akibat kanker dapat menurun.

Menurut Psikolog Yohana Domikus baik pasien kanker maupun organisasi pasien kanker harus memahami istilah No Mager, No Baper. Istilah Mager adalah singkatan dari ‘malas gerak’, sedangkan Baper singkatan dari ‘bawa perasaan’. No Mager bagi seorang pasien berarti dia harus selalu bergerak, berupaya melakukan pengobatan untuk kankernya. No Baper berarti pasien mau menyingkirkan perasaan negatif yang seringkali melanda saat melakukan terapi, seperti rasa sedih, pesimistik, sensitif, letih, atau jenuh.

“Perasaan seperti ini jika terlalu diikuti akan menghalangi pasien meraih kesembuhan,” tegasnya dalam webinar baru-baru ini.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Marieska Harya Virdhani




Close Ads