JawaPos Radar

Angka Penderita Diabetes Tipe II Terus Naik, Ini Penyebabnya

07/01/2017, 20:58 WIB | Editor: Muhammad Syadri
Angka Penderita Diabetes Tipe II Terus Naik, Ini Penyebabnya
Ilustrasi (pixabay.com)
Share this

JawaPos.com – Gaya hidup tidak sehat membuat seseorang rentan terkena penyakit diabetes tipe II. Diabetes jenis ini sedikit berbeda, biasanya dialami oleh masyarakat yang kegemukan. Pada seseorang dengan tipe ini, makanan yang diserap dan menjadi glukosa tetap berada di darah, dan tidak dapat masuk ke dalam sel.

Setelah makanan diserap, pankreas normalnya mengeluarkan hormon insulin. Insulin gunanya untuk membantu tubuh membuka dinding-dinging sel untuk menyerap glukosa di dalam darah. Diabetes tipe II memiliki pankreas dengan produksi insulin yang terkadang normal, namun justru kerusakan terjadi pada dinding selnya.

“Hal ini terjadi karena over used. Makanya penderita diabetes tipe II rata-rata karena kegemukan. Ibarat dipakai terus masuk makanan terus, jadi jebol dinding selnya. Walaupun insulinnya ada, tapi lubang kuncinya rusak. Glukosa tetap di darah enggak bisa masuk ke sel,” kata Edukator Diabetes Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Yulia, Jumat (7/1).

Yulia menambahkan karena dinding selnya rusak, lama kelamaan pankreasnya juga akan memproduksi insulin lebih sedikit. Karena itu, seseorang yang sudah memiliki kadar gula tak terkontrol tetap harus mendapat suntikan insulin.

“Itu yang sudah parah banget. Tapi rekomendasi International Diabetes Federation (IDF) yang terbaru agar menyarankan penyuntikan insulin harus secepatnya. Dulu kan coba obat dulu, olahraga dulu baru suntik. Namun sekarang disarankan kalau level gula darah sekian tak terkontrol, langsung dikasih insulin saja,” jelas Yulia.

Yulia menambahkan diabetes tipe II erat kaitannya dengan pola hidup tak sehat. Kurang olahraga, banyak mengkonsumsi fast food, banyak duduk, ditambah perkembangan zaman yang semakin memudahkan hidup seseorang. Yulia menambahkan seseorang tak sadar dengan kebiasaan hidupnya atau pola hidupnya berisiko. Masyarakat juga jarang berolahraga secara teratur.

“Dekat saja sekarang sudah naik ojek online. Petani saja naik motor di kampung-kampung. Lifestylenya berubah, sudah capek untuk berolahraga. Olahraga itu ada syaratnya baru bisa dibilang olahraga. Ada target denyut nadi sekian baru bisa bakar sekian kalori,” jelas Dosen FIK UI ini.

Yulia menambahkan saat ini juga banyak toko-toko kelontong yang menawarkan berbagai makanan dan minuman dengan harga yang terjangkau sambil mengobrol (convinience store). Minuman bersoda juga banyak mengandung gula yang tinggi.

“Makan asal seimbang enggak apa-apa. Lihat bule makan siangnya kan biasanya hanya salad atau sandwich. Kita sudah nasi lalu donat itu gulanya seberapa tinggi, sepertinya harus lari 3 kali lapangan bola sesudah makan untuk membakar kalori,” kata Yulia tertawa. (cr1/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up