alexametrics

Produksi Vaksin, Indonesia Jalin Kerja Sama dengan Tiongkok dan Korsel

Indonesia Butuh 300 Juta Ampul Vaksin
6 Juni 2020, 13:38:32 WIB

JawaPos.com – Riset terkait vaksin Covid-19 terus digenjot. Pemerintah memutuskan membentuk tim khusus untuk penelitian vaksin Covid-19, termasuk mulai membuka diri bekerja sama dengan pihak luar negeri. Ditargetkan proses produksi bisa dilakukan di awal tahun depan.

Menteri Riset dan Teknologi /Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro menuturkan, pandemi yang telah menyebabkan masalah kesehatan dan ekonomi saat ini hanya bisa diselesaikan jika vaksin ditemukan. Meski sebelumnya vaksin sudah jadi bagian dari penelitian tim konsorsium riset dan inovasi covid-19, pemerintah memandang perlu untuk dibentuk tim khusus peneliti vaksin dari lintas kementerian/lembaga.

Menurutnya, hal ini juga dilakukan oleh semua pihak di seluruh dunia. Semua sedang berlomba-lomba menemukan vaksin. Setidaknya 157 pihak di seluruh dunia berupaya menemukan vaksin Covid-19. Tercatat 10 diantaranya sudah mencapai uji klinis.

Melihat hal tersebut, Indonesia tak ingin ketinggalan yang kemudian nantinya membuat bergantung 100 persen pada vaksin yang ditemukan oleh negara lain. Terlebih, kebutuhan Indonesia sebagai satu negara besar dipastikan cukup banyak. ”Diperkiaran kebutuhan awal vaksin bisa mencapai 300 juta ampul,” ujarnya dalam temu media secara virtual, Jumat (5/6).

Berdasar itu, untuk bisa memenuhi kebutuhan ini Kementerian Ristek bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian BUMN, dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) membentuk tim pengembangan vaksin Covid-19 yang terspisah dengan tim konsorsium. Bambang mengaku pihaknya pun sudah mengajukan permohonan kepada Presiden untuk bisa ditetapkan dengan Keppres.

”Kami ingin beri penekanan lebih pada vaksin, karena kami meyakini vaksin solusi pamungkas,” tegasnya.

Tim ini diharapkan bisa melakukan percepatan penelitian vaksin. Sehingga Indonesia bisa mandiri, baik dari bibit vaksin maupun produksinya.

Terkait pembiayaan, Bambang mengatakan dapat diambil dari dana konsorsium dengan dukungan dari BUMN, swasta, serta rencana penambahan anggaran khusus vaksin nantinya. Kendati begitu, menurut dia, inti pembiayaan justru bukan saat riset melainkan ketika imunisasi masal nanti. ”Itu 2021, mungkin lewat Kemenkes,” ungkapnya.

Di sisi lain, secara pararel, dua perusahaan dalam negeri, PT Biofarma dan Kalbe Farma juga mulai melakukan kerja sama dengan produsen vaksin dari Tiongkok dan Korea Selatan. Bambang menegaskan, kerja sama ini guna memastikan pasokan vaksin Covid-19 di Indonesia.

”Jadi kita lakukan pararel, tidak hanya dalam negeri tapi juga kerja sama dengan pihak luar. Kerja sama tersebut melalui transfer teknologi dan proses produksi,” paparnya.

Timnya sendiri akan terdiri dari berbagai pihak, mulai dari peneliti dari berbagai universitas, lembaga penelitian, litbangkes, BPOM, dan peneliti diaspora. ”Untuk produksi nanti, tim dari Bio Farma dan Kalbe Farma sudah siap memproduksi sesuai kebutuhan,” ujar mantan Menteri Keuangan tersebut.

Ketua Konsorsium Riset Inovasi Covid-19 sekaligus koordinator tim pengembangan vaksin Ali Ghufron Mukti, menambahkan Indonesia sejatinya sudah berpengalaman dalam hal penelitian vaksin. Bio Farma misalnya. Sudah berhasil mengekspor vaksin ke 118 negara. Karenanya, dia optimis bahwa vaksin bisa ditemukan dan di produksi pada awal 2021.

”Targetnya, di awal atau pertengahan 2021. Permintaan Bapak Presiden di awal,” ungkapnya.

Diakuinya, pengembangan vaksin ini memang bisa membangun ekonomi yang menjanjikan. Karena banyak yang membutuhkan. Namun, yang paling penting adalah kemandirian dalam negeri sehingga bisa memenuhi kebutuhan.

Terkait kerja sama dengan pihak luar, mantan Wamenkes tersebut menegaskan bahwa kerja sama yang terjalin tentu saling menguntungkan. Karena Indonesia tidak ingin hanya jadi lokasi uji klinis dan calon pasar saja. ”Kita ingin bisa produksi sendiri,” tegasnya.

Dalam penelitian pengembangan vaksin ini, setidaknya ada tiga pendekatan yang dilakukan. Pertama, melemahkan atau mematikan virus seperti yang dilakukan oleh Bio Farma bersama produsen vaksin dari Tiongkok. Kedua, dengan protein rekombinan yang dilakukan oleh Lembaga Eikjman. Terakhir, secara genetik melalui DNA dan mRNA.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Edy Pramana

Reporter : Zalzilatul Hikmia



Close Ads