1 dari 200 Infeksi Virus Polio Akibatkan Kelumpuhan Permanen

5 Desember 2022, 07:48:56 WIB

Hampir delapan tahun Indonesia dinyatakan terbebas dari polio. Namun, belakangan ini polio muncul lagi. Terbaru, ada empat kasus yang ditemukan di Aceh. Pemerintah menetapkannya sebagai kejadian luar biasa (KLB).

PENULARAN penyakit yang disebabkan virus polio ini sangat cepat. Jika kondisi tersebut dibiarkan, berisiko menjadi wabah. Dalam temuan satu kasus polio yang mengalami kelumpuhan, kemungkinan ada 200 orang terinfeksi dengan gejala lebih ringan atau tidak bergejala. Namun, tetap bisa menularkannya ke orang lain.

Hal itu yang terjadi pada tiga kasus tambahan yang ditemukan di Aceh. Dengan satu kasus mengalami lumpuh layu. ’’Paling banyak memang tanpa gejala, persentasenya mencapai 90–95 persen. Yang berat hingga menimbulkan kelumpuhan memang sedikit, sekitar 1–2 persen. Namun, dampak kecacatan itu akan ditanggung seumur hidup oleh anak kita,’’ tutur anggota UKK Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI Dr dr Raihan SpA(K).

Rendahnya imunisasi rutin selama pandemi dan sanitasi yang buruk mengakibatkan munculnya kembali kasus polio. Dibutuhkan kekebalan komunitas untuk memutus mata rantai penularannya. Yakni, dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata. Bukan hanya di satu tempat.

’’Dari seluruh kabupaten di Aceh, Pidie –tempat ditemukannya kasus polio– menempati peringkat paling rendah untuk cakupan imunisasi,’’ lanjutnya.

Padahal, imunisasi masih merupakan satu-satunya cara paling efektif untuk mencegah polio. Imunisasi yang dilakukan pun tidak cukup hanya diberikan satu kali. Baik itu imunisasi tetes atau oral polio vaccine (OPV) maupun suntik atau inactivated polio vaccine (IPV). OPV berisi virus polio hidup yang dilemahkan, sedangkan IPV berisi virus polio yang sudah dimatikan.

’’OPV diberikan saat anak usia 0–1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Dan, diulangi pemberiannya satu kali saat anak usia 18 bulan (booster). Untuk IPV, diberikan saat usia 4 dan 9 bulan, atau dua kali sebelum anak berusia 1 tahun,’’ imbuh dr Siti Wahyu Windarti SpA MKed Klin.

Penyakit yang menyerang sistem saraf itu berbahaya. WHO menyebutkan, 1 di antara 200 kasus polio mengakibatkan kelumpuhan permanen. Belum ada obat untuk menyembuhkan kelumpuhan polio. Hanya perawatan atau pengobatan untuk meringankan gejala. Di antaranya, fisioterapi untuk merangsang otot hingga sepatu khusus untuk membantu mobilitas.

’’Apabila sudah terkena polio, tindakan yang dilakukan lebih ditekankan pada pengobatan suportif dan pencegahan terjadinya cacat sehingga anggota gerak diusahakan kembali berfungsi senormal mungkin,’’ ungkap dr Winda, sapaannya.

Masa inkubasi sejak virus masuk hingga menunjukkan gejala akan berlangsung dalam 3–6 hari. Dengan gejala awal seperti demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, lemah, dan muntah. Gejala akan bertambah berat dalam kurun satu sampai tiga minggu. Mulai sulit bernapas dan menelan, lemah otot, massa otot menurun, kaki dan lengan terasa lemah, hingga terjadi kelumpuhan.

’’Sebagian besar terjadi pada balita atau anak usia di bawah lima tahun. Anak dengan riwayat tidak pernah atau tidak lengkap diberikan imunisasi polio berisiko lebih besar untuk tertular polio,’’ ujar dokter spesialis anak RS Wiyung Sejahtera Surabaya dan RSU Anna Medika Madura itu.

Tak hanya berbahaya, polio termasuk penyakit yang sangat menular. Virus polio menyebar melalui fecal-oral. Masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feses (kotoran) yang mengandung virus polio. Apalagi jika kondisi sanitasi lingkungan buruk. Karena itu, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga penting dilakukan.

’’Menjaga kebersihan tangan dengan cuci tangan menggunakan air bersih dan sabun, mandi dengan air bersih, tidak BAB sembarangan, termasuk menjaga kebersihan makanan dan minuman dengan minum air yang sudah dimasak,’’ tandasnya.

PEMBERIAN IMUNISASI POLIO

– Vaksin polio tetes (OPV) diberikan empat kali pada usia 0–1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan.

– Vaksin polio suntik (IPV) diberikan satu kali pada usia 4 bulan. Mulai 2023, Kemenkes akan menambahkan pemberian suntikan polio (IPV) saat bayi berusia 9 bulan di seluruh provinsi.

Mitos vs Fakta

# Polio hanya menyerang anak-anak (MITOS)

– FAKTA: Sebagian besar memang terjadi pada anak berusia di bawah 5 tahun. Namun, semua anak sampai orang dewasa juga berisiko diserang penyakit polio.

# Tidak ada obat untuk polio (FAKTA) 

(Hanya bisa dicegah dengan imunisasi)

# Kelumpuhan akibat polio bisa kembali normal (MITOS)

– FAKTA: Kecacatan akan ditanggung seumur hidup. Hanya bisa diupayakan agar berfungsi seoptimal mungkin, bukan kembali normal.

# Penyakit polio menular (FAKTA) 

(Penularan terjadi dari lingkungan seperti air dan makanan yang tercemar serta melalui tinja yang mengandung virus polio).

# Polio dapat mengakibatkan kematian (FAKTA) 

(Terjadi kegagalan atau kelumpuhan sistem pernapasan sehingga sulit bernapas dan berisiko mengakibatkan kematian).

Sumber: Kemenkes, Dr dr Raihan SpA(K), dr Siti Wahyu Windarti SpA MKed Klin

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : lai/c12/nor

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads