alexametrics

Keterkaitan Hepatitis Misterius dengan Virus Covid-19 Masih Diteliti

5 Mei 2022, 17:20:58 WIB

JawaPos.com – Hingga saat ini para ilmuwan masih menyelidiki keterkaitan penyakit ”hepatitis akut yang tidak diketahui asalnya” (acute hepatitis of unknown aetiology). Termasuk keterkaitannya dengan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Menurut epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman, hepatitis yang menyebar sejak April 2022 itu tidak sepenuhnya misterius. Bisa jadi merupakan dampak sistemis dari infeksi virus Covid-19.

Dicky menyebutkan, setiap varian Covid-19 menginfeksi manusia dan menularkannya dalam bentuk infeksi saluran pernapasan. Namun, ada kemungkinan dampak-dampak lain yang mengganggu atau merusak bagian-bagian lain dalam tubuh. ”Termasuk mengganggu fungsi dari liver atau hepar,” jelas Dicky.

Pada masa awal-awal merebaknya pandemi Covid-19, kata dia, ada beberapa kasus yang dilaporkan bahwa pasien Covid-19 mengalami gejala mirip hepatitis. Yakni, beberapa bagian tubuh yang berubah menjadi kekuningan. Namun, seiring mutasi dan kemunculan varian baru, khususnya Omicron yang lebih cepat menular, muncul pola baru, yakni infeksi pada kelompok anak-anak yang umumnya belum divaksin. ”Dan jumlah (kelompok, Red) ini banyak,” sebut Dicky.

Saat ini sebagian anak-anak Indonesia di atas 6 tahun sudah divaksin. Namun, yang di bawah 5 tahun belum bisa divaksin. Belum lagi sebagian kelompok anak-anak di atas 6 tahun yang belum mendapatkan vaksin booster. ”Ini yang artinya perlu waspada infeksi yang bisa berdampak pada fungsi hepar pada anak,” terangnya.

Hepar atau hati merupakan organ yang sangat sering terganggu dengan infeksi Covid-19. Dalam pertemuan para peneliti pandemi global terakhir, Dicky mengatakan, salah satu penyebab hepatitis ini adalah adanya varian baru atau sub-varian baru dari penyebab Covid. ”Apa itu dari turunan Omicron atau yang lain, itu yang harus kita tunggu,” jelasnya.

Fakta ilmiah sejauh ini, infeksi Covid-19 mengakibatkan lemahnya salah satu sistem pertahanan tubuh dan menyerang sel tersendiri yang merupakan bagian penting dari sistem imun tubuh. Karena itulah, lanjut Dicky, sejak awal tidak bisa mengandalkan orang yang sudah terinfeksi agar bisa melawan infeksi varian berikutnya. Belum lagi, fenomena penurunan fungsi pertahanan tubuh sebagian kelompok orang.

Dia menegaskan, prinsip public health, yakni mencegah lebih baik daripada mengobati, harus dijunjung tinggi. ”Tidak bisa kemudian kita mengandalkan angka sero survei yang menyatakan 90 sekian persen masyarakat Indonesia sudah memiliki antibodi. Itu salah, itu bukan prinsip public health,” tegasnya.

Editor : Edy Pramana

Reporter : (tau//bil/c17/fal)

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads