alexametrics

Pasien Covid-19 yang Sembuh Bisa Merasa Nyeri pada Tubuh dan Tersiksa

4 Juli 2020, 06:06:33 WIB

JawaPos.com – Pasien Covid-19 dinyatakan sembuh jika setelah 2 kali hasil pemeriksaan swab spesimen dahak mereka sudah negatif. Tapi ternyata, sembuh bukan berarti benar-benar pulih. Sebab meski sudah dinyatakan sembuh, pasien Covid-19 masih menderita.

Kondisi ini membingungkan. Pasien datang dengan keluhan rasa sakit yang aneh, paru-paru yang tidak akan kembali normal, dan berbagai masalah psikologis.

“Apa yang kami lihat sangat menakutkan. Lebih dari separuh pasien, berminggu-minggu setelah tes negatif, masih bergejala,” kata Ahli dari Pusat Medis Shaare Zedek Yerusalem Prof. Gabriel Izbicki kepada The Times of Israel.

Izbicki sedang mengerjakan sebuah penelitian yang melibatkan tindak lanjut pada pasien yang berada di rumah sakit. Dia mengamati efek samping virus dan mencoba memahami mengapa pasien terus menderita lama setelah dikonfirmasi negatif.

“Ada sangat sedikit penelitian tentang dampak jangka menengah dari Coronavirus,” katanya seperti dilansir dari Times of Israel, Sabtu (4/7).

Di Bnei Brak, klinik komunitas pertama Israel, dokter telah melihat lonjakan dalam beberapa hari terakhir pada pasien dengan rasa sakit setelah sembuh. Rasa nyeri itu menyiksa pasien.

“Itu (nyeri) bisa muncul di lengan, kaki, atau tempat lain di mana virus tidak memiliki dampak langsung. Dan jika Anda bertanya tentang tingkat rasa sakit pada skala 1 hingga 10, bisa 10, dengan orang-orang mengatakan mereka tidak bisa tidurlah,” kata Direktur Klinik darurat di Bnei Brak yang dikelola oleh Maccabi Healthcare Services, Eran Schenker.

“Ini adalah kondisi yang mulai kami lihat lebih banyak dalam seminggu terakhir,” imbuhnya.

Seorang pasien anonim dari klinik berbicara kepada The Times of Israel. Dia didiagnosis pada bulan Maret dan dinyatakan negatif sebulan lalu. Suaminya, yang juga terkena virus Korona pada bulan Maret dan dites negatif bulan lalu. Dia menganalogikan dirinya seperti barang yang sudah rusak.

“Saya merasa sudah rusak. Lebih buruk daripada istri saya ketika dirawat di rumah sakit,” katanya

Suaminya, 55, memiliki beberapa masalah kesehatan sebelum tertular virus Korona pada Maret. Tetapi sebetulnya sosok yang cukup aktif dan banyak energi. “Dia sekarang sangat lesu, sulit berjalan, dan memiliki masalah jantung,” katanya.

Menurut Schenker, pasien bisa saja memburuk karena terlalu lama dirawat di rumah sakit. Dan penggunaan ventilator dapat memperlambat pemulihan. “Dalam gejala yang kami periksa, sebagian besar pasien yang pulih selain mengalami sesak napas, batuk berkelanjutan, dan masalah pernapasan dan paru kompleks lainnya,” katanya.

Rasa nyeri juga dialami pada pasien muda dan tua. Dokter sampai memberikan obat pereda nyeri. “Obat penghilang rasa sakit memblokir rasa sakit tetapi tidak menghilangkan sumbernya, tetapi kami tidak tahu bagaimana cara mengatasi sumbernya dan Anda tidak bisa menggunakan obat penghilang rasa sakit secara terus menerus,” jelasnya.

Sementara rasa sakit itu menyiksa bagi sebagian orang, yang lain menggambarkan rasa sakit sebagai kondisi tak nyaman, sensasi terbakar, kesemutan. “Kami memeriksa paru-paru dan hati mereka dan mereka tidak memiliki penyakit masalah neurologis. Kami melakukan pemindaian dan tidak melihat apa pun, tetapi mereka bilang kesakitan,” jelasnya.

Pasien lanjut usia yang sangat terpukul oleh Coronavirus, bisa memiliki masalah pernapasan setelah sembuh. Dan paru-paru mereka bekerja dengan setengah kemampuan.

“Mereka memiliki dua paru-paru, tetapi setara dengan satu, karena setiap paru-paru bekerja pada 50 persen. Bisa saja kerusakan paru itu tak disebabkan oleh virus. Tetapi oleh proses peradangan,” tutup Schenker.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads