alexametrics

Pasien Covid-19 Bergejala Ringan Bisa Alami Keluhan Jangka Panjang

3 Juni 2020, 15:13:12 WIB

JawaPos.com – Gejala Covid-19 dapat bervariasi pada setiap orang. Mulai dari yang asimptomatik hingga pneumonia yang mematikan. Meskipun 80 persen dari mereka hanya memiliki kasus yang ringan, tetapi ternyata tetap masih bisa mengalami keluhan untuk jangka panjang.

Bukti baru dari peneliti Tiongkok melaporkan bahwa pasien dengan kasus penyakit ringan bisa terkena masalah kesehatan jangka panjang setelah sembuh. Kepala Kardiologi Clinical Scientific Institute, Profesor Roberto Pedretti, menjelaskan dampak pada pasien sembuh juga bisa terjadi di kemudian hari seperti dilansir dari Science Times, Rabu (3/6).

“Fokus kami saat ini adalah merawat pasien pada tahap akut untuk membantu mereka pulih dari Covid-19. Tetapi juga perlu mempertimbangkan dampak kesehatan dari virus di masa depan,” kata Pedretti.

Di antara kerusakan jangka panjang itu adalah pada paru-paru. Pedretti menilai jumlah orang yang selamat dari Covid-19 membutuhkan rehabilitasi ekstensif untuk mengembalikan kualitas hidup mereka.

Sementara mereka dengan kasus yang parah mengalami pneumonia, berjuang untuk bernapas, yang berpotensi menyebabkan kondisi fatal dari sindrom pernapasan akut (ARDS). Tetapi bahkan jika mereka pulih dari ARDS, tetap akan meninggalkan bekas luka di paru-paru mereka yang menyebabkan gangguan sesak napas.

Menurut sebuah laporan dari Daily Mail, pasien yang menderita lebih buruk karena Coronavirus tidak selalu memiliki riwayat penyakit. Banyak dari mereka adalah orang-orang yang benar-benar bugar dan sehat.

Namun, seperti pasien lain, mereka juga menderita masalah paru-paru. Masih sulit untuk mengetahui seberapa baik paru-paru bisa pulih.

Karena kekhawatiran yang berkembang ini, British Lung Foundation dan Asthma UK telah meluncurkan Post-Covid Hub untuk menghubungkan pasien dengan dokter. Evaluasi dan teknik untuk mengatasi sesak napas juga diedukasi dalam program itu.

Efek SARS-CoV-2 pada Jantung

Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa beberapa kasus virus dapat mempengaruhi otak, yang menyebabkan kejang dan stroke, serta merusak hati, ginjal, pembuluh darah dan organ lainnya. Lebih jauh, laporan dari berbagai makalah penelitian mengatakan bahwa virus itu dapat menyebabkan kerusakan jantung pada pasien yang dapat memicu badai sitokin.

Ahli Jantung di University of Texas Dr Mohammad Madjid menjelaskan Covid-19 dapat memengaruhi sistem kardiovaskular melalui berbagai jalur. Virus dapat secara langsung mempengaruhi otot jantung. Sehingga mungkin jantung tidak bekerja sekuat seharusnya.

“Menyebabkan irama jantung menjadi tidak teratur,” tutupnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini: