Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 September 2025 | 22.07 WIB

Merasa Ketakutan Ekstrem pada Hantu? Waspada Phasmophobia, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Perempuan yang merasa ketakutan pada hantu (Dok. Freepik)

JawaPos.com -  Mendengar cerita hantu atau menonton film horor bisa menjadi hiburan menegangkan bagi sebagian orang. Namun, bagi penderita phasmophobia, ketakutan terhadap hantu bukan sekadar sensasi sesaat. Rasa takut ini begitu intens hingga memicu kecemasan mendalam, gangguan tidur, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Melansir dari Medical News Today, phasmophobia adalah ketakutan ekstrem terhadap hantu atau hal-hal supranatural. Penderitanya sering mengalami kecemasan, rasa tidak nyaman, dan keyakinan bahwa hantu bisa mengancam keselamatan. Gejala fisik dapat mencakup menangis, gemetar, detak jantung dan tekanan darah meningkat, serta sulit tidur hingga mengantuk di siang hari.

Rasa takut ini juga dapat memunculkan ketakutan tambahan seperti takut gelap, takut malam hari, atau enggan tidur sendirian. Banyak penderita berusaha keras menghindari pemicu, misalnya menolak menonton film horor atau menyalakan lampu semalaman.

Penyebab Phasmophobia

Phasmophobia biasanya bermula sejak masa kanak-kanak dan dapat berlanjut hingga dewasa. Pengalaman traumatis seperti mendengar cerita hantu yang menakutkan bisa meninggalkan kesan mendalam. Kondisi ini tergolong "specific phobia," yakni ketakutan irasional terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak berbahaya.

Penyebab pastinya belum jelas, tetapi fobia spesifik sering muncul ketika seseorang mengaitkan kejadian netral dengan rasa takut atau panik. Misalnya, jika seseorang mengalami ketakutan hebat saat mendengar suara aneh di malam hari, mereka mungkin terus mengaitkan malam dengan bahaya. Mengamati reaksi takut orang lain juga dapat menular, sehingga seseorang meniru rasa takut tersebut.

Terapi dan Penanganan Utama 

Terapi perilaku adalah metode yang paling efektif untuk mengatasi phasmophobia. Salah satunya adalah terapi paparan (exposure therapy), di mana penderita secara bertahap dihadapkan pada situasi yang memicu ketakutan, dimulai dari yang paling ringan hingga paling menakutkan. Tujuannya adalah melatih otak untuk menyadari bahwa tidak ada ancaman nyata.

Teknik pendukung meliputi relaksasi, latihan pernapasan, dan visualisasi terpandu untuk membantu mengendalikan rasa cemas. Seiring waktu, metode ini dapat mengurangi sensitivitas terhadap pemicu ketakutan.

Selain terapi paparan, hipnosis dan terapi virtual reality dapat menjadi pilihan. Dalam terapi virtual, pasien menghadapi pemicu ketakutan melalui simulasi komputer yang aman.

Cognitive Behavioral Therapy (CBT) juga efektif. CBT membantu pasien mengenali pola pikir irasional dan menggantinya dengan cara berpikir yang lebih realistis. Dengan begitu, penderita belajar menenangkan diri dan mengurangi gejala fobia.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan obat seperti antidepresan sebagai pendukung terapi perilaku, terutama bila kecemasan sangat parah.

Jika ketakutan terhadap hantu mengganggu tidur, pekerjaan, atau hubungan sosial, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan mental. Diagnosis yang tepat dan rencana perawatan yang sesuai dapat membantu mengurangi gejala secara signifikan.  

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore