
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, didampingi sejumlah pejabat, mengikuti Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (29/8/2024). (Miftahul Hayat/Jawa Pos)
JawaPos.com – Pemerintah tengah mengembangkan penelitian genetika pada manusia dan tumbuhan. Pada bidang kesehatan, Kementerian Kesehatan gencar mengumpulkan data-data genom masyarakat. Selain itu, penelitian genom tumbuhan pertanian dan endemik Indonesia juga dikembangkan di Sumatera Utara.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marvest) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan tengah dilakukan penulisan genom untuk bibit unggul. Penelitian itu dilakukan di Sumatera Utara dan bekerja sama dengan Tiongkok. ”Risetnya akan berjalan 10 tahun dan ini tahun kedua,” katanya dalam acara Second Anniversary BGSi kemarin (12/9).
Luhut optimistis dua tahun lagi akan menghasilkan bibit unggul. Itu akan membantu pertanian Indonesia dengan cara produksi secara mandiri dan memiliki kualitas yang bagus. ”Pertanian ini kuncinya bibit, pupuk, dan infrastruktur. Indonesia tidak perlu lagi mengimpor bibit untuk pertanian,” ujarnya.
Luhut pun telah minta Kementerian Dalam Negeri untuk memerintahkan kepala daerah mengumpulkan bibit. Menurut dia, akan ada transformasi di bidang pertanian. Apalagi pemerintah sudah membangun infrastruktur untuk mendukung investor masuk hingga pelosok.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa Kemenkes sudah mengambil sampel 9 ribu orang. Dari jumlah itu, 6 ribu sudah dilakukan genome sequencing. Sebanyak 4.500 sampel di antaranya telah dianalisis. ”Targetnya, akhir tahun 10 ribu. Lalu, lima tahun bisa mengambil 100 ribu sampel,” tuturnya.
Pemerintah telah membentuk clinical research center di tingkat nasional. Agar lebih efektif, di setiap rumah sakit akan ada clinical research unit. Ke depan, output-nya adalah pengobatan akan bersifat pribadi atau disesuaikan dengan genetik setiap individu. Nama lainnya adalah pharmacogenomic.
”Tidak semua obat itu cocok untuk orang Indonesia. Bahkan, ada yang spesifik resistansi terhadap obat tertentu,” ujar Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan Rizka Andalucia.
Dirjen Pelayanan Kesehatan Azhar Jaya mengungkapkan, pengobatan secara presisi sesuai dengan kondisi individu akan lebih efektif dan murah. Oleh karena itu, dia mewajibkan fasilitas kesehatan besar di Indonesia mengembangkan pengobatan berdasar phamacogenomic.
”Ada delapan rumah sakit yang kini jadi hub,” tuturnya. Misalnya, RS Persahabatan mengembangkan pengobatan berdasar kebutuhan individu untuk penyakit infeksi. (lyn/c6/dio)

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
