
Ilustrasi tanaman yang bisa mengusir nyamuk./ (Pixabay)
JawaPos.com – Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi momok bagi Indonesia saat musim hujan. Hingga minggu ke-12 tahun ini, sudah 350 orang meninggal karena DBD. Jumlah mereka yang terkena DBD sejauh ini ada 46.168 orang.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi kemarin (1/4) menyatakan bahwa salah satu dugaan kasus DBD tinggi di sebuah wilayah karena program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) rendah. Program tersebut terdiri dari menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas (3M).
Menurut catatan Kemenkes, Bandung dan Subang menjadi daerah dengan jumlah kasus dan kematian karena DBD tinggi. ’’Wilayah yang kasusnya tinggi karena nyamuk Aedes aegypti di sana banyak dan ada sumber penularannya sehingga lebih cepat menyebar,” jelas Imran.
Kota Bandung menjadi salah satu wilayah yang menjadi pilot project wolbachia. Proyek ini diharapkan dapat mengendalikan perkembangan nyamuk Aedes aegypti di wilayah tersebut.
Namun, ternyata Kota Bandung justru menjadi daerah yang banyak terjadi DBD. Amran beralasan ini lantaran belum seluruh wilayah Bandung terlibat dalam proyek tersebut. ’’Di Bandung baru satu kelurahan yang disebar dan baru bulan lalu disebar,” katanya.
Dengan sedikitnya wilayah yang menjadi pilot project dan durasi waktu yang belum lama membuat khasiat wolbachia belum terlihat efeknya. ’’Efek baru terlihat setelah minimal 60 persen nyamuk di suatu wilayah sudah ber-wolbachia,” ungkapnya.
Ini terlihat di Jogjakarta yang sudah sepuluh tahun mengembangkan wolbachia. Angka kasus DB di wilayah ini rendah, begitu juga angka keparahan karena penyakit ini.
Sebelumnya, Imran mengungkapkan adanya vaksin DBD. Kampanye yang sedang digiatkan adalah #Ayo3MplusVaksinDBD. Selain mengajak untuk PSN, kampanye tersebut juga memberikan opsi preventif lain, yakni vaksinasi DBD.
Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan bahwa El Nino menjadi penyebab peningkatan kasus DBD. Siklus DBD berjalan 10 tahunan sekali, sekarang tiga tahunan sekali. Perubahan ini terjadi sejak 2005. ’’Sejak saat itu puncaknya (DBD) terjadi tiga tahunan,” tuturnya. (lyn/c17/ttg)

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
