Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 November 2016 | 20.11 WIB

Halusinasi Itu Bagian Gangguan Jiwa, Begini Cara Mengatasinya

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Kasus pembunuhan sering dilakukan oleh seseorang secara spontan. Sebagian mengaku melakukan tindakan keji itu karena dorongn bisikan gaib.



Bisikan atau bayangan yang hanya bisa didengar oleh individu tersebut bisa menjadi tanda dari gangguan jiwa.



Seseorang yang mendapatkan bisikan atau bayangan tersebut sering berhalusinasi. Dia mengikuti bisikan yang dia dengar untuk bertindak negatif.



“Itu sudah halusinasi, sudah gangguan. Dia ikutin apa yang dia dengar, itu enggak nyata,” kata Guru Besar Keperawatan Kesehatan Jiwa  Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Achir Yani S Hamid.



Yani menjelaskan dalam menghadapi pasien seperti itu, perawat memiliki ilmu untuk menghilangkan halusinasi pasien. Caranya dengan membuat pasien untuk mengusir halusinasinya dan kembali ke kehidupan nyata.



“Caranya menghardik, meminta agar dia tutup telinganya, bahwa tidak itu tidak nyata pergi sana, saya enggak dengar. Nanti halusinasi itu akan pergi. Kalau dia halusinasi, terhadap kenyataan sulit masuk. Dengar suara, yang orang lain enggak dengar,” jelas Yani.



Perawat memiliki metode untuk mengusir halusinasi tersebut. Untuk mencegah halusinasi kembali datang, perawat membuat pasien lupa dengan cara menambah kesibukkan pasien untuk mengalihkan perhatiannya.



“Pasien diajarkan kemampuan,  harus menyibukkan diri. Keluarganya juga harus mendukung supaya perhatiannya teralihkan,” katanya.



Seseorang dengan halusinasi tidak bisa dipastikan berapa lama masa penyembuhannya. Cara pengobatannya juga menggunakan terapi obat dan penyadaran perilaku.



“Lihat dulu gangguan prilakunya apa. Biasanya kita enggak bisa intervensi keperawatan, karena mereka menarik diri dan diam misalnya. Pasti ada obat khusus dari psikiater. Kita perawat lebih kepada memberi treatment perilaku agar tak menarik diri,” kata Yani.



Caranya dengan  mengajarkan dengan social skill training atau keterampilan sosialisasi. Ajak mereka melakukan sesuatu untuk menarik mereka lagi ke dunia nyata. “Ini sangat relatif peluang sembuhnya. Enggak bisa kita pastikan, tergantung pada gejala,” tutup Yani. (cr1/JPG)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore