alexametrics

Cuci Darah Pasien Gagal Ginjal, Kedua Tertinggi yang Ditanggung BPJS

1 November 2018, 07:35:39 WIB

JawaPos.com – Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) membuat pasien Gagal Ginjal Kronis (GGK) tahap akhir yang harus menjalani perawatan dialisis (cuci darah) lebih dimudahkan. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menanggung beban biaya dialisis dengan jumlah pasien yang terus melonjak.

Biaya dialisis yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan pada dua tahun terakhir 2016 dan 2017 adalah Rp 3,9 triliun dan melonjak ke angka Rp 4,6 triliun. Jumlah itu menempati posisi kedua tertinggi dari biaya penyakit yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Kondisi itu diangkat dalam Kongres Indonesian Health Economic Association (InaHEA) ke-5. InaHEA adalah perhimpunan para ahli dalam bidang ekonomi kesehatan di Indonesia. InaHEA berafiliasi dengan Asosiasi Ekonomi Kesehatan Internasional (iHEA) sebagai forum ekonomi kesehatan terbesar pada tingkat global. Forum tersebut menelaah terkait 4 tahun implementasi JKN dan permasalahan pelayanan kesehatan terutama bagi pasien penyakit kronis, misalnya pasien gagal ginjal yang harus menjalani perawatan dialisis.

“Dalam 5 tahun terakhir jadi lebih agresif cepat, sudah 5 tahun berturut2. Dipicu lahirnya ramainya JKN. Aplg defisit mulu. Tambah banyak bikin berita. Maka bagaimana kami para ahli ekonomi kesehatan harus mikir jangan begini terus,” tegas Ahli Ekonomi Kesehatan dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH., Dr.PH, dalam konferensi pers, Rabu (31/10).

Pasien dialisis harus menjalani prosedur ini sepanjang hidupnya, sebagai bentuk terapi pengganti ginjal yang sudah tidak dapat berfungsi secara normal. Artinya, pemerintah beserta seluruh pemangku kepentingan tidak dapat menutup mata terhadap dampak ekonomi dan sosial dari populasi ini baik jangka pendek dan jangka panjang.

Jika dibedah lebih lanjut pada tahun 2017 berdasarkan jumlah kunjungan 4.200.678 dan jumlah pasien dialisis berdasarkan nomor kartu kepesertaan yaitu 73.737 pasien, didapatkan rata-rata kunjungan adalah 56 kali per tahun. Angka ini hanya 58 persen dari ideal nya jumlah kunjungan 96 kali setahun (dengan asumsi 8 kali kunjungan per bulan).

Artinya, utilisasi hemodialisa masih belum optimal. Bisa banyak faktor, apakah faktor kepatuhan pasien, faktor pasien meninggal dunia, atau adanya hambatan akses pasien untuk mendapatkan perawatan, seperti proses rujukan berjenjang yang berbelit, atau minimnya jumlah fasilitas hemodialisis.

“Kenyataan yang terjadi dengan tingginya defisit yang dialami oleh BPJS Kesehatan harus disoroti dan ditindaklanjuti secara serius. Biaya penyakit katastropik yang cukup tinggi, seperti contohnya dialisis tidak dapat diabaikan,” ujar Prof Hasbullah.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : (ika/JPC)



Close Ads
Cuci Darah Pasien Gagal Ginjal, Kedua Tertinggi yang Ditanggung BPJS