JawaPos Radar

Bikin Trenyuh! Lihat Perjuangan Orang Tua Hadapi Anak dengan Kanker

01/10/2017, 08:15 WIB | Editor: Mochamad Nur
Anak Penderita Kanker
Anak penderita kanker ikut olahraga (Dokumentasi Yayasan Anyo Indonesia)
Share this

JawaPos.com – Perjuangan anak dengan kanker harus didukung penuh. Mereka membutuhkan perhatian dan semangat dari keluarga dan lingkungan. Kisah sedih dan pilu juga mewarnai perjuangan anak-anak penderita kanker di Rumah Anyo, Jakarta Barat.

Ketua Yayasan Anyo Indonesia (YAI) Pinta Manullang Panggabean mengungkapkan banyak cerita perjuangan para anak-anak penderita kanker di sana. Paling banyak adalah penderita leukemia atau kanker darah. Satu persatu, dari 200an anak yang singgah di Rumah Anyo, sebanyak 60an di antaranya sudah berpulang atau meninggal dunia karena berjuang melawan kanker.

“Sedih sekali saat satu demi satu anak-anak kami berpulang. Perjuangan mereka luar biasa, di antaranya bahkan orang tak punya. Tak selalu bertemu mereka lengkap saat berkunjung ke tempat kami, karena mereka sebagian juga berobat ke RS Dharmais jika ternyata ada tempat tidur (bed) kosong,” ungkap Pinta dalam Seminar Meet The Experts Cordlife , Sabtu (30/9).

Pinta menjelaskan dalam rangka memperingati bulan September sebagai bulan kesadaran leukemia, dia meminta kepada masyarakat dan para orang tua yang memiliki anak penderita kanker untuk terus semangat. Tentu perjuangan mereka membutuhkan dukungan dari semua pihak.

“Menghadapi anak yang telah divonis kanker bukan perkara tak mudah. Kami alami di Rumah Anyo. Banyak orang tua akhirnya divorce bercerai tak kuat hadapi anaknya menyandang kanker termasuk kanker darah. Kami saling support supaya harus kuat,” tuturnya.

Anak penderita kanker harus menghadapi berbagai macam pengobatan, biopsi hingga kemoterapi. Pinta menyebutnya dengan istilah kelelahan tak berujung.

“Tak mudah hadapi anak yang menyandang penyakit kanker. Kita tak tahu ujung penderitaannya sampai kapan. Saya menyebutnya fatigue atau kelelahan tak berujung. Sampai kami sering bersandiwara di depan anak-anak yang orang tuanya bercerai. Bahwa orang tua mereka rukun-rukun saja,” jelas Pinta.

Menurutnya, setiap tahun ada 4 ribu kasus baru anak penderita kanker. Sementara dokter spesialis anak yang khusus membidangi tentang kanker baru 70 orang di Indonesia. Pinta menuturkan banyak anak penyandang kanker kehilangan rasa percaya diri dan semangat.

“Seperti anak yang beranjak remaja misalnya di masa pubertas mereka kehilangan percaya diri. Di saat rambut mulai rontok, tubuh kurus, mereka bilang ‘ada enggak sih yang suka sama saya?’. Sampai seperti itu. Kondisi seperti itu harus kami support terus agar mereka bisa terus semangat,” tutup Pinta. 

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up