alexametrics

Perhatikan Jenis Faktor Risiko Kanker Paru-Paru

1 Agustus 2021, 19:19:32 WIB

Pada sembilan tahun lalu, setiap 1 Agustus dunia memperingati Hari Kanker Paru-Paru. Hari Kanker Paru-Paru kali pertama digelar Forum of International Respiratory Societies yang bekerja sama dengan International Association for the Study of Lung Cancer dan juga American College of Chest Physicians.

BEGITU mendengar kanker paru-paru, ada kisah miris nan menyayat hati yang datang dari Verawaty Fajrin. Sang legenda yang pernah menorehkan tinta emas di ajang cabang olahraga bulu tangkis pada dekade 1980-an itu tengah terkapar sakit. Mantan atlet yang lahir di Jakarta pada 1957 tersebut didiagnosis kanker paru-paru.

Penyakit dengan kasus kematian tertinggi nomor satu di Indonesia itu memang tidak mengenal gender. Siapa saja bisa disasarnya. Tidak terkecuali seorang atlet. ’’Perempuan atau pria sama saja. Semua berpotensi terkena kanker paru-paru,” kata Prof dr Elisna Syahruddin PhD SpP(K) dalam webinar Peringatan Kanker Paru-Paru Sedunia dan Peluncuran Aplikasi Pulih pada Rabu (28/7) itu.

Jebolan program PhD Postgraduate School of Medical Science di Hiroshima University, Jepang, tersebut menyatakan, setiap orang mempunyai risiko satu untuk terkena kanker mana saja. Sesehat apa pun seseorang tetap punya risiko. Khusus untuk paru-paru, kanker berasal dari jaringan bronkus saluran pernapasan. Saluran pernapasan itu mulai trakea, tenggorokan, sampai ke 33 cabang di dalam paru-paru.

Kanker paru-paru terjadi ketika beberapa sel di paru-paru mengalami perubahan. Yang kemudian, kata Elisna, membuat sel tumbuh dan berkembang di luar kendali. Lalu, sel membentuk tumor atau benjolan. Secara normal, tubuh akan memperbaiki setiap ada kerusakan. Pada kondisi tidak normal, misalnya. Tubuh tidak mampu memperbaiki.

Lalu, apa perbedaan kanker dengan tumor? Elisna menyebutkan, tumor adalah ketika pertumbuhan sel terlalu cepat dan hanya ada di satu lokasi. Tumor punya karakteristik. Ketika tumor keluar dari kapsulnya, lalu menyebar lewat pembuluh darah, tumor akan menjadi kanker. ’’Tapi, kan kanker saya ada di satu tempat saja di paru-paru. Iya, tapi sudah keluar dari kapsulnya. Kebanyakan sudah menyebar ke mana-mana,” paparnya.

Dia mengungkapkan, kanker paru-paru bisa juga menyebar ke area tubuh lain. Salah satunya adalah otak. Berdasar data yang disampaikan Elisna, kanker paru-paru merupakan kasus tertinggi ketiga yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia. Nah, kemajuan ilmu dan teknologi meningkatkan ketepatan dalam mendiagnosis dan terapi untuk kanker paru-paru. ’’Yang jelas, bisa memperpanjang kesintasan pasien,” jelas perempuan kelahiran Belawan, Sumatera Utara, itu.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : sam/c12/tia

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads