alexametrics

Psikolog Bicara Soal Fetish, Pelecehan Seksual, dan Penanganannya

1 Agustus 2020, 18:07:17 WIB

JawaPos.com – Mahasiswa Universitas Airlangga bernama Gilang menghebohkan publik karena kasus pelecehan seksual kepada beberapa mahasiswa lain dengan modus penelitian akademik. Mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2015 ini ramai menjadi bahan pembicaraan masyarakat karena memiliki fetish (ketertarikan seksual dengan hal tertentu yang biasanya bertentangan dengan norma umum, Red) terhadap kain jarik.

Masyarakat pun ramai-ramai menyoroti istilah fetish dan lantas mengaitkannya dengan tindakan pelecehan seksual. Terlepas dari kasus Gilang dan kain jarik, apakah fetish selalu bisa dikaitkan dengan pelecehan seksual?

Menurut Dosen Departemen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga Atika Dian Ariana, S.Psi., M.Sc., fetish dikategorikan sebagai pelecehan bila pelakunya merasa terangsang kala melihat sesuatu yang tidak berhubungan dengan hal-hal yang terkait dengan seksualitas dan memaksakan kehendaknya untuk melakukan hubungan seksual kepada korbannya.

“Memiliki fetish tidak akan menjadi persoalan bila terkait dengan hal-hal seksual, seperti bagian tubuh. Masalah muncul ketika lawan atau target tidak setuju untuk berhubungan,” ungkapnya ketika dihubungi pada Sabtu (1/8).

Atika merasa masyarakat perlu banyak mencari tahu lebih lanjut soal kasus Gilang dan fetish-nya kepada kain jarik.

“Dalam kasus Gilang, masyarakat harus mencari tahu apakah yang bersangkutan punya trauma secara psikologis atau tidak. Mengalami fetish itu tidak menyenangkan karena bertentangan dengan norma umum,” ujar Atika.

Menurut Atika, selain menimbulkan rasa tidak nyaman pada korban, pelaku yang memiliki fetish juga merasa tidak nyaman. Pasalnya, seksualitas termasuk kebutuhan primer yang harus disalurkan. Kasus Gilang menjadi masalah karena ia melibatkan pihak lain dengan modus penelitian akademik. Dengan kata lain, perbuatan ini tidak dilakukan atas dasar suka sama suka seperti lazimnya kedua orang yang melakukan hubungan badan.

Terkait tindakan lanjutan, Atika menyimpulkan bahwa perlu ada pendampingan dan rehabilitasi terhadap Gilang. “Gangguan psikologis setara seperti gangguan fisik. Untuk kasus ini, kita harus mencari tahu apakah ini murni gangguan psikologis atau anomali medis seperti gangguan hormonal,” ujarnya.

Sementara untuk korban, Atika menyarankan agar korban mendapatkan bantuan psikologis. Menurutnya, ada kemungkinan kebanyakan korban mempertanyakan harga dirinya setelah diperlakukan sedemikian rupa oleh Gilang.

“Ada yang merasa lemah, ada juga yang merasa bersalah. Apalagi dengan adanya fenomena victim blaming yang dilakukan netizen. Kalau bisa jauhi media sosial untuk mengurangi perasaan tidak enak,” ungkapnya.

Editor : Banu Adikara

Reporter : rafika



Close Ads