src="https://cdn.geozo.com/mfel17291/ilv/0mp/30y8qh678vuq687/pky52d4.go">

Dosis Ganja Medis Umumnya Lebih Rendah dan Diawasi Ketat oleh Dokter

1 Juli 2022, 05:31:36 WIB

JawaPos.com–Isu legalisasi ganja medis hidup kembali setelah seorang warga bernama Santi Warastuti membentangkan poster Tolong anakku butuh ganja medis saat itu. Bahkan isunya telah bergulir ke DPR, wakil presiden, hingga MUI. Bagaimana sebetulnya keamanan ganja medis untuk pengobatan?

Ahli Spesialis Penyakit Dalam dan juga Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban menjawab beberapa pertanyaan masyarakat. Menurut dia, dosis ganja medis umumnya lebih rendah dan harus diawasi ketat oleh dokter.

”Akan mengalami high juga? Dosis yang dibutuhkan untuk tujuan medis biasanya jauh lebih rendah daripada untuk rekreasi,” kata Zubairi Djoerban dalam kicauannya yang sudah dikonfirmasi baru-baru ini.

Zubairi menjabarkan penggunaan ganja untuk medis sejauh apa. Menurut dia, sejauh ini banyak sekali studi tentang ganja.

”Beberapa bisa menjadi obat. Namun, masih banyak juga yang belum diketahui tentang tanaman ini dan bagaimana dia berinteraksi dengan obat lain serta tubuh manusia,” terang Zubairi Djoerban.

Apakah ganja medis itu aman? Dia menjelaskan, fakta bahwa ganja medis itu legal di sejumlah negara, bahkan untuk nonmedis. Namun tidak berarti sepenuhnya aman. Jika penggunaan tidak ketat, bisa terjadi penyalahgunaan yang menyebabkan konsekuensi kesehatan bagi penggunanya.

”Yang jelas, saat pengobatan, pasien tidak boleh mengemudi,” papar Zubairi Djoerban.

”Ini bicara soal pengawasan dan dosis berlebihan. Itulah sebabnya penggunaan ganja medis harus sangat ketat oleh dokter yang meresepkannya,” jelas dia.

Mengenal Jenis Obat Ganja Lainnya

FDA juga telah menyetujui dua obat sintetis tetrahydrocannabinol (THC). Obat-obatan itu digunakan untuk mengobati mual pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi (antimuntah) dan untuk meningkatkan nafsu makan pada pasien HIV/AIDS.

Di Amerika Serikat, FDA telah menyetujui satu obat ganja nabati (Epidiolex), yang mengandung cannabidiol murni (CBD) dari tanaman ganja. Obat itu digunakan untuk mengobati kejang serta kelainan genetik langka. Kemudian THC dan CBD tidak boleh dipakai sama sekali perempuan hamil dan menyusui.

”(Kesimpulannya), belum ada bukti obat ganja lebih baik, termasuk untuk nyeri kanker dan epilepsi. Namun ganja medis bisa menjadi pilihan atau alternatif, tapi bukan yang terbaik. Sebab, belum ada juga penyakit yang obat primernya adalah ganja,” terang Zubairi Djoerban.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Marieska Harya Virdhani

Saksikan video menarik berikut ini: