← Beranda

Orang yang Senang Merencanakan Perjalanan Berbulan-bulan Sebelumnya Cenderung Mengalami 7 Efek Kepuasan Ini Menurut Psikologi

Irfan FerdiansyahKamis, 12 Februari 2026 | 00.57 WIB
seseorang yang merencanakan perjalanan berbulan-bulan./Freepik/New Africa

JawaPos.com - Merencanakan perjalanan jauh-jauh hari sering dianggap berlebihan oleh sebagian orang. Ada yang berpikir bahwa liburan seharusnya spontan, mengalir, dan tanpa banyak rencana.

Namun, dari sudut pandang psikologi, kebiasaan merencanakan perjalanan berbulan-bulan sebelumnya justru memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kondisi mental dan emosional seseorang.

Orang-orang yang menikmati proses perencanaan perjalanan biasanya tidak hanya mengejar tujuan liburan semata, tetapi juga menikmati prosesnya sebagai bagian dari kebahagiaan itu sendiri.

Mulai dari memilih destinasi, menyusun itinerary, mencari penginapan, hingga membayangkan pengalaman yang akan datang—semuanya memberi efek psikologis yang nyata.

Dilansir dari Geediting pada Senin (9/2), terdapat tujuh efek kepuasan psikologis yang cenderung dialami oleh orang-orang yang gemar merencanakan perjalanan jauh hari sebelum keberangkatan:

1. Anticipatory Happiness (Kebahagiaan Antisipatif)

Dalam psikologi, terdapat konsep yang disebut anticipatory happiness, yaitu kebahagiaan yang muncul bukan saat peristiwa terjadi, tetapi saat seseorang menantikannya.

Orang yang merencanakan perjalanan berbulan-bulan sebelumnya mengalami kebahagiaan berlapis: bahagia saat merencanakan, bahagia saat menunggu, dan bahagia saat menjalani perjalanan.

Setiap kali mereka memikirkan rencana liburan, otak melepaskan dopamin—hormon yang berkaitan dengan rasa senang dan motivasi. Artinya, liburan itu sendiri belum terjadi, tetapi efek kebahagiaannya sudah mulai dirasakan sejak jauh hari.

2. Rasa Kontrol terhadap Hidup

Perencanaan jangka panjang memberi rasa sense of control atau kendali atas hidup. Dalam psikologi, rasa memiliki kontrol ini sangat penting untuk stabilitas emosional.

Orang yang senang merencanakan perjalanan biasanya merasa hidupnya lebih terstruktur, tidak mudah cemas terhadap ketidakpastian, dan lebih tenang dalam menghadapi masa depan. Perjalanan bukan hanya liburan, tetapi simbol bahwa hidup mereka memiliki arah, tujuan, dan sesuatu yang dinantikan.

3. Reduksi Stres Sehari-hari

Rutinitas hidup yang monoton sering memicu stres kronis. Menurut psikologi kognitif, memiliki sesuatu yang dinantikan di masa depan berfungsi sebagai "jangkar emosional".

Ketika seseorang mengalami hari yang berat, ia bisa berpikir: “Nanti aku liburan.” Pikiran ini saja sudah cukup untuk menurunkan tekanan mental, meningkatkan toleransi stres, dan membantu otak bertahan dari kelelahan psikologis.

4. Kepuasan dari Proses, Bukan Hanya Hasil

Orang yang menikmati perencanaan biasanya memiliki orientasi kepuasan proses (process-oriented satisfaction). Mereka tidak hanya fokus pada tujuan akhir (perjalanan), tetapi menikmati setiap tahap persiapannya.

Dalam psikologi positif, ini menunjukkan kemampuan mindful engagement—menikmati aktivitas kecil secara sadar. Ini membuat mereka lebih mudah merasa puas dalam hidup secara umum, bukan hanya saat momen besar terjadi.

5. Identitas Diri yang Lebih Stabil

Merencanakan perjalanan juga membentuk identitas psikologis. Seseorang mulai melihat dirinya sebagai:

"Aku adalah orang yang suka eksplorasi"

"Aku adalah perencana"

"Aku adalah pencari pengalaman"

Dalam teori psikologi identitas, memiliki narasi diri yang jelas membuat seseorang lebih stabil secara emosional, tidak mudah kehilangan arah, dan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan hidup.

6. Peningkatan Makna Hidup (Sense of Meaning)

Bagi banyak orang, perjalanan bukan sekadar rekreasi, tetapi simbol makna hidup: belajar, bertumbuh, mengenal dunia, dan mengenal diri sendiri.

Orang yang merencanakan perjalanan jauh hari biasanya memaknai hidup sebagai perjalanan panjang, bukan sekadar rutinitas harian. Dalam psikologi eksistensial, ini meningkatkan sense of meaning—perasaan bahwa hidup memiliki nilai dan tujuan.

7. Kepuasan Emosional yang Lebih Tahan Lama

Berbeda dengan kesenangan instan (belanja impulsif, hiburan sesaat), kepuasan dari perencanaan perjalanan bersifat jangka panjang. Ada tiga fase kebahagiaan:

Bahagia saat merencanakan

Bahagia saat menjalani perjalanan

Bahagia saat mengenangnya

Ini menciptakan siklus kepuasan emosional yang berulang dan tahan lama. Dalam psikologi, ini disebut sebagai sustained emotional reward.

Penutup

Menurut psikologi, orang yang senang merencanakan perjalanan berbulan-bulan sebelumnya bukan sekadar "tipe perencana", tetapi individu yang secara tidak sadar sedang membangun sistem kebahagiaan mental yang sehat.

Mereka menciptakan harapan, struktur, makna, dan tujuan hidup melalui hal sederhana: sebuah rencana perjalanan.

Jadi, jika kamu termasuk orang yang suka membuka kalender, menandai tanggal liburan, membuat itinerary, dan menghitung hari keberangkatan—itu bukan kebiasaan sepele. Itu adalah mekanisme psikologis alami untuk menjaga kebahagiaan, stabilitas mental, dan kepuasan hidup.

Karena bagi sebagian orang, kebahagiaan bukan hanya tentang pergi…

tetapi tentang menantikan.

EDITOR: Hanny Suwindari