← Beranda
Orang yang Tetap Bersikap Baik Meski Sedang Stres, Biasanya Menunjukkan 7 Ciri Ketahanan yang Langka Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 2 Februari 2026 | 23.25 WIB
seseorang yang bersikap baik meski sedang stres./Freepik/freepik

JawaPos.com - Dalam kehidupan modern yang serba cepat, tekanan dan stres menjadi bagian yang hampir tak terpisahkan dari keseharian.

Tuntutan pekerjaan, masalah keluarga, tekanan sosial, hingga ketidakpastian masa depan dapat membuat siapa pun mudah tersulut emosi.

Namun, ada kelompok kecil orang yang justru tetap mampu bersikap baik, tenang, dan penuh empati meskipun berada dalam kondisi stres berat.

Menurut psikologi, sikap ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari ketahanan mental (resilience) yang kuat.

Ketahanan psikologis bukan sekadar kemampuan bertahan, tetapi juga kemampuan untuk tetap menjadi pribadi yang positif dan bermakna di tengah tekanan. Orang-orang ini menunjukkan ciri-ciri yang jarang dimiliki banyak orang.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (1/2), terdapat 7 ciri ketahanan yang langka yang biasanya dimiliki oleh mereka yang tetap bersikap baik saat stres.

1. Regulasi Emosi yang Matang

Mereka tidak memendam emosi secara tidak sehat, tetapi juga tidak melampiaskannya secara impulsif. Orang dengan regulasi emosi yang baik mampu:

Mengenali emosi yang muncul (marah, takut, kecewa, cemas)

Menerima emosi tersebut tanpa menyangkal

Mengelola responnya secara sadar

Dalam psikologi, ini disebut sebagai emotional regulation. Individu dengan kemampuan ini tidak dikendalikan oleh emosi, melainkan mampu mengelola emosi sebagai informasi, bukan sebagai reaksi otomatis.

2. Empati yang Tetap Aktif Meski Tertekan

Saat stres, banyak orang menjadi lebih egois dan fokus pada dirinya sendiri. Namun, orang yang tangguh secara mental justru tetap memiliki empati. Mereka mampu memahami bahwa:

Orang lain juga sedang berjuang

Sikap kasar sering berasal dari luka batin

Kebaikan kecil bisa berdampak besar

Empati ini bukan kelemahan, melainkan bentuk kecerdasan emosional tingkat tinggi yang membuat mereka tetap manusiawi dalam situasi sulit.

3. Makna Hidup yang Jelas (Sense of Meaning)

Psikologi eksistensial menunjukkan bahwa manusia yang memiliki makna hidup yang kuat lebih tahan terhadap stres. Orang-orang ini tidak hanya bertanya:

“Bagaimana cara menghindari rasa sakit?”

Tetapi lebih kepada:

“Untuk apa aku bertahan dan bersikap baik?”

Makna hidup ini bisa berasal dari nilai spiritual, tujuan hidup, keluarga, kontribusi sosial, atau prinsip moral yang kuat. Inilah yang membuat mereka tetap berpegang pada kebaikan meskipun keadaan tidak adil.

4. Kendali Diri yang Tinggi (Self-Control)

Mereka tidak bereaksi secara impulsif. Saat stres, mereka mampu menahan dorongan untuk:

Membalas dengan kemarahan

Melukai dengan kata-kata

Bersikap sinis atau kasar

Dalam psikologi, ini disebut delay of gratification dan impulse control. Kendali diri yang tinggi menunjukkan kematangan mental dan kedewasaan emosional.

5. Pola Pikir Fleksibel (Psychological Flexibility)

Orang yang tangguh secara psikologis tidak berpikir hitam-putih. Mereka mampu menerima bahwa:

Hidup tidak selalu adil

Orang baik pun bisa menderita

Stres adalah bagian dari proses

Mereka tidak menolak realitas, tetapi menyesuaikan diri dengannya. Ini membuat mereka tidak mudah hancur secara mental saat tekanan datang.

6. Identitas Diri yang Kuat

Mereka tidak membiarkan situasi menentukan siapa diri mereka. Prinsip hidup mereka jelas:

“Aku memilih menjadi orang baik, bukan karena dunia baik padaku, tapi karena itu nilai hidupku.”

Ini menunjukkan self-identity yang stabil, di mana nilai moral dan karakter tidak berubah karena tekanan eksternal.

7. Resiliensi Berbasis Nilai, Bukan Situasi

Kebanyakan orang baik saat situasi nyaman. Namun, orang dengan ketahanan langka tetap baik saat situasi tidak nyaman. Artinya, kebaikan mereka:

Tidak bergantung pada kondisi

Tidak bergantung pada perlakuan orang lain

Tidak bersifat transaksional

Ini adalah bentuk resiliensi berbasis nilai (value-based resilience), yaitu ketahanan yang bersumber dari prinsip hidup, bukan keadaan.

Mengapa Ciri-Ciri Ini Disebut Langka?

Karena secara biologis dan psikologis, manusia cenderung bereaksi defensif saat stres. Otak akan mengaktifkan mekanisme fight, flight, freeze, yang membuat seseorang:

Mudah marah

Mudah menyalahkan

Fokus bertahan, bukan peduli

Maka, tetap bersikap baik di tengah stres bukan respons alami, tetapi respons yang dilatih, dibentuk, dan dikembangkan melalui kesadaran diri, pengalaman hidup, dan pertumbuhan psikologis.

Penutup: Kebaikan Adalah Bentuk Ketahanan Tertinggi

Menurut psikologi modern, orang yang tetap bersikap baik saat stres bukanlah orang lemah, justru sebaliknya: mereka adalah orang dengan ketahanan mental tertinggi. Mereka kuat bukan karena tidak merasa sakit, tetapi karena mampu mengelola rasa sakit tanpa mengubah karakter.

Kebaikan mereka bukan reaksi, melainkan pilihan sadar. Ketegaran mereka bukan keras, melainkan matang. Ketahanan mereka bukan bertahan, tetapi bertumbuh.

Karena pada akhirnya, ketahanan sejati bukan hanya tentang bertahan hidup…

tetapi tentang tetap menjadi manusia yang utuh di tengah tekanan hidup.

EDITOR: Hanny Suwindari