JawaPos.com - Tanpa disadari, banyak orang terlalu terbuka saat berbicara hingga membagikan detail pribadi yang seharusnya disimpan.
Oversharing kerap dianggap sebagai cara membangun kedekatan, padahal justru bisa membuat lawan bicara merasa tidak nyaman dan perlahan menjauh.
Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dikendalikan. Dengan melatih kesadaran diri, mengelola emosi, dan memahami dinamika percakapan, kamu tetap bisa tampil hangat dan komunikatif tanpa harus menceritakan semuanya.
Berikut 4 cara yang bisa kamu lakukan untuk berhenti oversharing seperti dirangkum dari laman Klinik GWS Medika.
1. Dengarkan dan prioritaskan lawan bicara
Saat terlibat dalam percakapan, biasakan mendengar dengan tujuan memahami, bukan sekadar menunggu giliran bicara.
Banyak orang mengira oversharing akan membuat mereka lebih menarik, padahal yang sering terjadi justru sebaliknya.
Terlalu banyak bercerita tentang diri sendiri bisa membuat orang lain kehilangan ruang untuk berbagi.
Dengan mendengarkan secara aktif, kamu akan lebih peka terhadap kebutuhan dan kenyamanan lawan bicara.
Dari situ, kamu bisa menyesuaikan isi dan porsi cerita agar tetap relevan. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa kemampuan mendengar adalah fondasi terpenting dalam komunikasi yang sehat.
2. Ingat, informasi seperlunya lebih efektif
Di tengah ritme hidup yang cepat, tidak semua orang punya kapasitas untuk menyerap terlalu banyak detail.
Semakin panjang dan rinci cerita yang kamu sampaikan, semakin besar kemungkinan inti pesannya justru terlewat.
Karena itu, penting bagi kamu untuk mengenali batasan pribadi atau personal boundaries. Mulailah mencatat situasi atau topik yang sering membuatmu kebablasan bercerita. Dengan mengenali polanya, kamu bisa lebih waspada dan tahu kapan harus menahan diri.
3. Bangun percakapan, bukan monolog
Sebelum berbicara, luangkan waktu sejenak untuk berpikir, apa manfaat informasi ini bagi lawan bicara? Jika perlu, susun ceritanya agar singkat, relevan, dan tetap menarik.
Oversharing sering kali berubah menjadi monolog panjang, sementara kebanyakan orang ingin terlibat dalam dialog dua arah.
Beri jeda dalam cerita, buka ruang untuk respons atau pertanyaan, dan jangan ragu menyelipkan humor ringan agar suasana tetap cair dan nyaman.
4. Temukan cara sehat mengelola emosi
Dorongan untuk oversharing sering muncul saat emosi sedang memuncak. Untuk itu, kamu perlu memiliki mekanisme koping yang lebih sehat.
Seperti berolahraga, berjalan santai di alam terbuka, atau menyalurkan perasaan lewat aktivitas kreatif seperti menulis dan menggambar.
Jika memang perlu berbagi, pilih orang yang tepat, mereka yang bisa mendengarkan dengan empati sekaligus menjaga privasi.
Dalam beberapa kasus, berbicara dengan terapis atau konselor bisa membantu memutus kebiasaan oversharing dan menggantinya dengan cara mengelola emosi yang lebih aman.
Pada akhirnya, membuka diri seharusnya menjadi pilihan sadar, bukan dorongan yang sulit dikendalikan.