← Beranda

Orang yang Terlalu Sering Meminta Maaf atas Segala Hal Biasanya Tumbuh dengan 7 Pengalaman Awal Ini Menurut Psikologi

Irfan FerdiansyahKamis, 13 November 2025 | 03.35 WIB
seseorang yang terlalu sering meminta maaf./Freepik/katemangostar

JawaPos.com - Di sekitar kita, selalu ada orang yang mudah berkata “maaf ya…” bahkan untuk hal-hal kecil—terlambat beberapa detik, meminta tolong, atau sekadar menanyakan sesuatu yang sebenarnya wajar.

Kebiasaan ini sering dianggap sebagai bentuk kesopanan, namun dalam psikologi, perilaku meminta maaf berlebihan (over-apologizing) dapat menjadi sinyal adanya pola yang terbentuk sejak kecil.

Tidak selalu berarti mereka lemah atau kurang percaya diri; justru, perilaku ini biasanya berakar pada pengalaman masa awal yang penuh tekanan, tuntutan, atau ketidakamanan emosional.

Seakan-akan kata “maaf” menjadi perisai yang memungkinkan mereka bertahan dan diterima.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (11/11), terdapat tujuh pengalaman yang paling sering menjadi dasar kebiasaan tersebut.

1. Dibesarkan dalam Lingkungan yang Mengagungkan Kepatuhan

Sebagian anak tumbuh di keluarga yang menilai kesopanan identik dengan tunduk, patuh, dan tidak banyak bicara.

Ketika pendapat pribadi jarang dihargai, anak belajar bahwa menjadi “baik” berarti tidak merepotkan siapa pun—termasuk dengan terus meminta maaf bahkan ketika tidak salah.

Dalam pola ini, “maaf” digunakan untuk menenangkan lingkungan sekitar dan menegaskan bahwa dirinya tidak mengancam harmoni keluarga.

2. Orangtua yang Mudah Marah atau Tidak Stabil secara Emosional

Baca Juga: Waspada Sebelum Menyesal: Pentingnya Inspeksi Menyeluruh Sebelum Beli Mobil Bekas

Ketika orangtua mudah meledak atau tidak dapat diprediksi, anak belajar mengambil peran sebagai penjaga stabilitas emosi.

Mereka menggunakan permintaan maaf sebagai cara menghindari konflik atau hukuman.

Seiring waktu, strategi ini terus terbawa bahkan saat mereka sudah dewasa—merasa bersalah sebelum kesalahan terjadi.

3. Dibiasakan Menjadi “People Pleaser” Sejak Kecil

Banyak keluarga memberi penghargaan lebih pada anak yang penurut, ramah, dan tidak membantah.

Mereka belajar bahwa nilai diri datang dari bagaimana mereka menyenangkan orang lain.

Karenanya, ketika dewasa, mereka merasa wajib meminta maaf agar orang lain tidak kecewa—meskipun sebenernya tak ada yang salah.

4. Sering Disalahkan atau Dijadikan Kambing Hitam

Saat anak terus dianggap penyebab masalah, ia belajar menginternalisasi kesalahan. “Semua salahku” menjadi keyakinan bawah sadar yang terbawa hingga dewasa.

Akibatnya, ia selalu merasa bertanggung jawab atas perasaan atau keadaan orang lain, sehingga “maaf” menjadi refleks otomatis.

5. Kurangnya Validasi Emosional

Anak yang emosinya tidak pernah diakui—misalnya, dibilang lebay, cengeng, atau berlebihan—sering mempertanyakan nilai dirinya.

Mereka belajar bahwa keberadaan dirinya bisa merepotkan.

Alhasil, meminta maaf dianggap cara aman untuk tetap diterima tanpa menimbulkan “masalah”.

6. Pengalaman Ditolak atau Dibully

Penolakan dan bullying di masa awal bisa membentuk persepsi bahwa dirinya tidak cukup berharga.

Untuk menghindari pengalaman menyakitkan serupa, mereka memilih merendahkan diri, menghindari konfrontasi, dan meminta maaf sesering mungkin demi diterima.

Ini adalah bentuk proteksi bagi harga diri yang rapuh.

7. Pola Asuh Perfeksionistik

Dalam keluarga yang perfeksionis, kesalahan kecil bisa diperbesar.

Anak tumbuh dengan rasa takut salah dan selalu berusaha tampil sempurna.

Namun, karena kesempurnaan mustahil, kegagalan kecil pun bisa memicu rasa bersalah.

Mereka akhirnya memakai permintaan maaf untuk mengatasi kecemasan akan “kesalahan” yang sebenarnya belum tentu nyata.

Apa Dampaknya Saat Dewasa?

Kebiasaan meminta maaf berlebihan dapat:

Menurunkan rasa percaya diri

Mengaburkan batas personal

Menimbulkan ketidakjelasan hubungan

Membuat orang lain cenderung mengambil keuntungan

Menjadikan seseorang sulit mengekspresikan kebutuhan

Mereka bisa tampak baik, ramah, dan mudah berkorban, tetapi sering memendam tekanan batin yang tak terlihat.

Bagaimana Mengatasinya?

Beberapa langkah awal yang dapat membantu:

Sadari bahwa tidak selalu salah

Gunakan kata lain selain “maaf,” misalnya “terima kasih sudah menunggu”

Belajar menetapkan batas

Latih menerima diri dan kebutuhan pribadi

Cari bantuan profesional bila pola sudah mengganggu kehidupan

Perubahan memang butuh waktu, tetapi setiap langkah kecil sangat berarti.

Penutup: Memulihkan Nilai Diri

Orang yang terlalu sering meminta maaf bukanlah pribadi lemah.

Justru, mereka sering tumbuh dengan sensitivitas, empati, dan kemampuan membaca situasi yang tajam—hasil dari perjuangan panjang menghadapi lingkungan masa kecil yang menuntut.

Namun ketika kebiasaan ini membuat diri sendiri terluka, penting untuk belajar bahwa kita memiliki hak untuk ada, berbicara, meminta, dan bahkan membuat kesalahan tanpa harus selalu berkata maaf.

Memahami akar perilaku adalah langkah pertama untuk membangun kembali keyakinan bahwa keberadaan kita sendiri sudah cukup—bahkan tanpa permintaan maaf yang berlebihan.

EDITOR: Hanny Suwindari